Cari Blog Ini

Memuat...

Mengenai Saya

Foto Saya
Bekerja di Dinas Kesehatan Kab. Ngada,lulusan SPK Depkes Ende, melanjutkan pendidikan S1 keperawatan di Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar 2005-2009 dan Alumni Pendidikan Profesi Ners 2009-2011.

Rabu, 28 Oktober 2009

Skripsi : Faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria di wilayah kerja puskesmas maunori

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam The World Malaria Report 2008, dikatakan setengah dari populasi dunia berhadapan dengan resiko malaria, dan diperkirakan 250 juta kasus tertinggi yang menghantar pada kondisi kematian di tahun 2006 (Global Malaria Programe WHO). Badan Kesehatan Dunia (WHO), menggambarkan walaupun berbagai upaya telah dilakukan, hingga tahun 2005 malaria masih menjadi masalah kesehatan utama di 107 negara di dunia. Penyakit ini menyerang sedikitnya 350 – 500 juta orang setiap tahunnya dan bertanggung jawab terhadap kematian sekitar 1,2 - 2,7 juta orang setiap tahunnya terutama pada anak – anak dibawah usia 5 tahun khususnya daerah yang kurang terjangkau oleh pelayanan kesehatan. Berdasarkan laporan WHO tahun 2000 terdapat lebih dari 2400 juta penduduk atau 40% dari penduduk dunia tinggal di daerah endemis malaria ( Ndoen, Ermi, 2005 ).
Melalui Program Indonesia Sehat 2010, gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang ingin dicapai adalah masyarakat yang antara lain hidup dalam lingkungan sehat dan mempraktekkan perilaku hidup bersih dan sehat. Dalam penyusunan rencana strategis (Renstra) Departemen Kesehatan telah mengacu pada rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) nasional seperti yang telah ditetapkan dalam peraturan presiden nomor 7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009 (RPJMN). Oleh karena itu Visi, Misi, Strategi, dan kebijakan, serta program-program Departemen Kesehatan dirancang dalam menunjang pencapaian sasaran dampak pembangunan kesehatan, yaitu : (1) meningkatnya umur harapan hidup dari 66,2 tahun menjadi 70,6 tahun, (2) menurunnya angka kematian bayi dari 35 menjadi 26 per 1.000 kelahiran hidup, (3) menurunnya angka kematian ibu dari 307 menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup, dan (4) menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita dari 25,8 % menjadi 20 % (Depkes RI,2005) Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah ( RPJPM ) 2004 – 2009 salah satu program di bidang kesehatan adalah pencegahan dan pemberantasan penyakit, termasuk wabah penyakit menular (Renstra Depkes 2005-2009).
Penyakit Menular yang menjadi prioritas Pembangunan Nasional Jangka Panjang 2005 – 2025 adalah Malaria, Demam Berdarah Dengue, Diare, Polio, Filaria, Kusta, Tuberculosis Paru, HIV/AIDS, Pneumonia dan penyakit lainnya yang dapat dicegah dengan imunisasi ( Koban, W. Antonius 2005 ). Diantara sejumlah penyakit menular yang menjadi prioritas pembangunan Nasional Jangka Panjang, Malaria menempati urutan pertama, hal ini dikatakan merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena angka morbiditas dan mortalitasnya yang masih tinggi terutama didaerah luar Jawa dan Bali. Di dearah transmigrasi yang terdapat campuran penduduk yang berasal dari daerah endemic dan yang tidak endemic malaria, masih sering terjadi ledakan kasus atau wabah yang menimbulkan banyak kematian (Widoyono, 2008).
Penyakit malaria merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang mempengaruhi angka kematian bayi, anak di bawah umur lima tahun, dan ibu melahirkan serta menurunkan produktifitas tenaga kerja. Angka kesakitan penyakit ini relative masih cukup tinggi terutama di kawasan timur Indonesia. Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria masih sering terjadi terutama di daerah yang terjadi perubahan lingkungan dan perpindahan penduduk, oleh karena itu upaya pemberantasan malaria perlu kita tingkatkan terus antara lain dengan meningkatkan kemampuan dan ketrampilan para pelaksananya terutama di Kabupaten/ Kota dan tenaga lapangannya (Depkes.RI).
Di Indonesia, sampai saat ini angka kesakitan penyakit malaria masih cukup tinggi, bahkan menjadi penyebab kematian nomor tiga pada beberapa daerah endemis (Hegemur, 2008), terutama di daerah luar Jawa dan Bali yang ditunjukkan dengan Annual Malaria Incidence ( AMI ) tahun 2003 : 21,8 per 1000 populasi, kemudian 21,2 per 1000 populasi pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 18,94 per 1000 populasi dan data terakhir tahun 2008 dilaporkan AMI sebesar 16,05 per 1000. Namun, kini di daerah Jawa dan Bali sudah terjadi peningkatan jumlah penderita malaria yang ditunjukkan dengan Annual Parasit Incidence ( API ) pada tahun 2003 sebesar 0,22 per 1000 populasi dan 0,15 per 1000 populasi tahun 2004 serta tahun 2005 sebesar 0,15 per 1000 populasi. Hal ini diakibatkan banyaknya pengungsi yang berasal dari daerah yang dilanda konflik, sehingga juga ikut berperan bagi terjadinya penyebaran malaria dari daerah endemis ke daerah non-endemis. Secara Nasional data Depkes RI tahun 2005 menunjukkan bahwa angka kesakitan malaria dengan AMI tertinggi adalah Papua 208,82 per 1000 populasi diikuti oleh Nusa Tenggara Timur 100,49 per 1000 populasi ( 70.390 kasus ) dan Maluku sebesar 67,24 per 1000 populasi ( Profil Depkes,2005 ).
Dalam penelitian yang dilakukan Zega, 2007, dikatakan angka kejadian malaria di daerah HCI (High Case Incidence) yang tinggi dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang masih rendah, hal senada diungkapkan Siahaan, 2008, bahwa Tingkat pendidikan yang rendah memperkecil peluang masyarakat untuk mempunyai pekerjaan yang memberikan penghasilan yang cukup. Tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan kurangnya pengetahuan sehingga pemahaman tentang pemberantasan malaria juga kurang. Kondisi ini menyebabkan buruknya tindakan masyarakat dalam pemberantasan malaria. Sikap pencegahan dan pencarian pengobatan yang baik pada saat kejadian malaria, menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat untuk sesegera mungkin melakukan tindakan pencegahan sesuai dengan yang disampaikan oleh petugas kesehatan dan media informasi lainnya, sekaligus mengupayakan pencarian pengobatan untuk penyakit malaria.
Departemen Kesehatan (Depkes) menargetkan kasus malaria di Jawa dan Bali bisa ditekan selama 2007. Sedangkan pemerintah menargetkan Indonesia terbebas dari malaria pada 2010. Dengan digencarkannya program pemberantasan malaria,saat ini diupayakan sarana dan prasarana dapat dipenuhi mulai obat-obatan, kelambunisasi, mikroskop, rapid diagnostic test (RDT), dan lainnya. Prioritas pemberantasan nasional itu dimulai dari Papua dengan program Save Papua yang mengintegrasikan dengan direktorat lain. Sistem door to door tidak hanya untuk memberantas malaria, juga HIV/AIDS, demam berdarah dengue, gizi buruk, atau penyakit lainnya dalam keluarga. Sementara itu, Global Fund for Fight AIDS, TBC, and Malaria di Indonesia menyatakan bahwa Indonesia terbebas dari malaria pada 2025. Asumsi ini didasarkan pada program penanggulangan malaria, ketersediaan tenaga kesehatan yang memadai, serta terpenuhinya suplai obat-obatan dan sarana lain. Proyek Global Fund ronde pertama, jangkauan wilayah penanggulangan penyakit malaria, di antaranya Maluku Utara, Maluku, Papua, Nusa Tenggara Timur, dan Irian Jaya Barat, dengan total dana sebesar USD23 juta yang telah dimulai sejak Juli 2003 dan berakhir Juni 2008. Meskipun saat ini angka kasus penyakit malaria masih cukup tinggi, namun sudah ditemukan pola penularannya. Dengan demikian diperkirakan dengan penanganan yang intensif pada tahun 2025, Indonesia sudah terbebas dari penyakit malaria.
Hingga saat ini, tercatat 107 juta penduduk Indonesia yang tinggal di daerah berisiko tertular malaria yang tersebar di 310 Kabupaten / Kota. Atau, sekitar 70,3% dari total Kabupaten di Indonesia. Pada tahun 2006 dan 2007 telah terjadi kejadian luar biasa (KLB) dan peningkatan kasus malaria pada 8 Kabupaten di 8 Provinsi –yang meliputi 20.331 jiwa penduduk, 12 desa dengan 1.051 kasus positif, dan 23 di antaranya berakhir dengan kematian. Dari angka ini, persentase kasus fatal (case fatality rate) sebesar 2,19%. Jumlah kasus malaria diperkirakan sejumlah 10 juta kasus klinis dengan 3 juta kasus positif,sedangkan pada 2006 sebanyak 340 ribu kasus positif malaria. Berbeda dengan Depkes, Jawa- Bali baru bisa dinyatakan bebas malaria pada 2010. Pada 2015 diharapkan kasus malaria berkurang 50%. Sementara untuk target nasional, secara rasional baru bisa terwujud 2025–2030. Negara yang berbatasan dengan Indonesia, yaitu Papua Nugini, Timor Leste, maupun Negara Mekong –seperti Myanmar, Kamboja, Laos,dan Thailand, dapat menghambat target suksesnya program pemberantasan malaria ini, Sebab, pada beberapa negara tersebut, kasus malaria masih cukup tinggi (Abdul Malik)
Menurut dr. I Nyoman Kandun, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan ( PP & PL ) RI, Indonesia termasuk negara berisiko malaria. Pada tahun 2006 terdapat sekitar 2 juta kasus malaria klinis, sedangkan tahun 2007 menjadi 1,75 juta kasus. Jumlah penderita positif malaria ( hasil pemeriksaan mikroskop positif malaria ) tahun 2006 sekitar 350.000 kasus, dan pada tahun 2007 sekitar 311.000 kasus. Dari data tersebut nampak bahwa angka kejadian malaria di Indonesia saat ini masih tinggi bila dibandingkan dengan target Nasional (AMI) yang diharapkan tahun 2010 adalah 5 per 1000 populasi (http://www.pppl.depkes.go.id/ 2008).
Di Propinsi NTT penyakit malaria tersebar di seluruh pelosok daerah dengan tingkat endemisitas yang berbeda – beda, musim hujan yang diselingi panas akan memperbesar kemungkinan berkembangnya vektor nyamuk Anopheles, khususnya pada daerah pantai dan dataran rendah. Data Depkes tahun 2000 menunjukkan bahwa tidak kurang dari 73% kasus yang diobati di puskesmas dan rumah sakit di NTT adalah malaria ( Ndoen, Ermi 2005 ). Di tahun 2004, dilaporkan tidak kurang dari 711.480 kasus malaria klinik terjadi di NTT, dimana 20% dari 75.000 slide darah yang diperiksa positif malaria dengan AMI 172,77 per 1000 penduduk. Sedangkan tahun 2007 berdasarkan data yang dilaporkan Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota kepada Dinas Kesehatan NTT ada 539. 591 orang menderita penyakit malaria dan sempat berobat secara klinis sebanyak 478.010 kasus. Untuk penderita malaria di tahun 2007 lebih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah penderita malaria tahun 2006 yakni sebanyak 618.364 penderita ( http : // www. dinkesntt.com, 2009).
Kabupaten Nagekeo adalah salah satu kabupaten yang mempunyai kasus malaria yang cukup tinggi di propinsi Nusa Tenggara Timur bahkan Kabupaten Nagekeo merupakan wilayah endemis malaria dimana angka kejadian malaria masih tetap tinggi dari tahun ke tahun. walaupun telah terjadi penurunan jumlah kasus. Data Malaria yang tercatat pada tahun 2006 malaria klinis sebanyak 24.056 kasus dan positif sebanyak 8.465 kasus dan tahun 2007 malaria klinis sebanyak 20.670 kasus dan positif sebanyak 9.115 kasus sedangkan tahun 2008 malaria klinis sebanyak 19.412 kasus dan positif 11.053 kasus.
Puskesmas Maunori merupakan Puskesmas yang berada di wilayah Kabupaten Nagekeo dengan jumlah kasus malaria yang tinggi, data yang dihimpun dari Dinas Kesehatan, pada tahun 2006 jumlah kasus malaria klinis sebanyak 1.872 kasus dan kasus positif sebanyak 197 kasus, tahun 2007 jumlah malaria klinis sebanyak 1.352 kasus dengan kasus positif sebanyak 126 kasus dengan kasus kematian komplikasi ISPA 1 orang, dan pada tahun 2008 jumlah malaria klinis sebanyak 2.342 kasus dengan jumla kasus positif sebanyak 294 kasus, dan pada bulan Januari dan Februari 2009 terjadi 234 kasus malaria dan terdapat 1 kasus kematian.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas dirumuskan masalah penelitian adalah bagaimana hubungan faktor pendidikan, pengetahuan dan sikap terhadap kejadian malaria di wilayah kerja Puskesmas Maunori Kabupaten Nagekeo Propinsi Nusa Tenggara Timur
C. Tujuan penelitian
1. Tujuan Umum
Diketahuinya faktor yang berhubungan dengan kejadian Malaria di wilayah Puskesmas Maunori tahun 2009.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya hubungan antara pendidikan pasien dengan kejadian malaria.
b. Diketahuinya hubungan antara pengetahuan pasien dengan kejadian malaria.
c. Diketahuinya hubungan antara sikap pasien dengan kejadian malaria.
D. Manfaat penelitian
1. Manfaat ilmiah :
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan acuan dalam menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang malaria dan pengembangan selanjutnya.
2. Manfaat pengetahuan :
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan bahan bacaan bagi masyarakat dan peneliti berikutnya mengenai kasus malaria.
3. Manfaat praktis
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan bagi petugas kesehatan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo, khususnya pada Puskesmas Maunori dalam rangka penentuan kebijakan dalam upaya penanggulangan dan pemberantasan penyakit Malaria secara cepat dan tepat, dan bagi penulis sendiri, merupakan pengalaman berharga dalam menambah wawasan dan pengetahuan melalui penelitian lapangan









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Malaria
1. Pengertian Malaria
Malaria diduga berasal dari benua Afrika, asal muasal umat manusia, fosil nyamuk ditemukan pada lapisan geologi yang berumur 30 juta tahun. Ada bukti bahwa bahwa nyamuk menyebarkan penyakit ke wilyah-wilayah tropis di seluruh dunia, lama sebelum sejarah manusia dimulai. Malaria mengikuti perpindahan manusia ke wilayah-wilayah di sepanjang Mediterania, Mesopotamia, Jazirah, India dan Asia Tenggara. Hipocrates, seorang dokter di Yunani pada abad ke-5 SM, untuk pertama kali menjelaskan gejala-gejala penyakit malaria secara rinci, dan mengesampingkan semua yang berhubungan dengan tahyul. Dari hasil pengamatan para sarjana didapati bahwa penyakit itu banyak didapati di daerah rawa-rawa yang mengeluarkan bau busuk sehingga penyakit itu disebut malaria (mal=buruk; aria=udara). Istilah paludisme untuk padanan kata malaria yang dikenal di beberapa negara, juga mempunyai hubungan dengan rawa rawa atau tempat yang kotor. Pada tahun 1880, Charles L.A. Laveran menemukan gamet “plasmodium falsifarum”, tahun 1897, Ronald Ross menemukan bentuk ookista dalam lapisan otot lambung nyamuk anopheles, selanjutnya Ross menunjukan bukti malaria ditularkan oleh nyamuk Anopheles pada tahun 1902. Secara harafiah dapat dikatakan malaria adalah penyakityang timbul akibat lingkungan yang kotor dimana merupakan tempat berkembangbiaknya vektor penyakit seperti nyamuk (Sutisna, 2004).
Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit ( protozoa ) dari genus plasmodium, yang dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles ( Prabowo, 2004 ).
2. Etiologi Malaria
Malaria disebabkan oleh parasit sporozoa Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina infektif. Sebagian besar nyamuk anopheles akan menggigit pada waktu senja atau malam hari, pada beberapa jenis nyamuk puncak gigitannya adalah tengah malam sampai fajar (Widoyono, 2008).
Terdapat 4 jenis plasmodium yang sering menyebabkan malaria pada manusia antaralain yaitu (Harijanto, 2000):
a. Plasmodium Falciparum ditemukan oleh Welch, 1897 sebagai penyebab Malaria tropika yang sering menyebabkan Malaria yang berat.
b. Plasmodium vivax ditemukan Grosi dan Felati, 1890 sebagai penyebab Malaria Tertiana.
c. Plasmodium Malariae ditemukan oleh Laveran, 1888, sebagai penyebab Malaria Quartana.
d. Plasmodium ovale yang ditemukan oleh Stephens tahun 1922, namun jenis ini jarang sekali dijumpai di Indonesia, karena umumnya banyak kasusnya terjadi di Afrika dan Pasifik Barat.
Pada penderita penyakit Malaria, kadang dapat dihinggapi oleh lebih dari satu jenis plasmodium. Infeksi demikian disebut infeksi campuran (mixed infection). Dari kejadian infeksi campuran ini biasanya paling banyak dua jenis parasit, yakni campuran antara plasmodium falcifarum dengan plasmodium vivax atau plasmodium malariae. Infeksi campuran ini biasanya terjadi di daerah yang tinggi angka penularannya (Hegemur, 2008).
3. Siklus Hidup Malaria.
Dalam siklus hidupnya plasmodium mempunyai dua hospes yaitu pada manusia dan nyamuk. Siklus Aseksual yang berlangsung pada manusia disebut skizogoni dan siklus seksual yang membentuk sporozoit didalam tubuh nyamuk disebut sporogoni (Nugroho A, 2000).
a. Siklus Aseksual dalam tubuh manusia.
Siklus parasit malaria adalah setelah nyamuk Anopheles yang mengandung parasit malaria menggigit manusia, maka keluar sporozoit dari kelenjar ludah nyamuk masuk kedalam darah dan jaringan hati. Parasit Malaria pada siklus hidupnya, membentuk stadium skizon jaringan dalam sel hati (ekso-eritrisiter). Setelah sel hati pecah akan keluar merozoit/ kriptozoit yang masuk ke eritrosit membentuk stadium skizon dalam eritrosit (stadium eritrositer), mulai bentuk tropozoit muda sampai skizon tua/matang sehingga eritrosit pecah dan keluar merozoit. Merozoit sebagian besar masuk kembali ke eritrosit dan sebagian kecil membentuk gametosit jantan dan betina yang siap untuk diisap oleh nyamuk malaria betina dan melanjutkan siklus hidup di tubuh nyamuk/stadium sporogoni (Nugroho A, 2000).
b. Siklus seksual dalam tubuh nyamuk.
Setelah melewati stadium sporogoni selanjutnya pada lambung nyamuk terjadi penyatuan antara sel gamet jantan (mikrogamet) dan sel gamet betina (makrogamet) yang menghasilkan zigot. Zigot akan berubah menjadi ookinet, kemudian masuk kedalam dinding lambung nyamuk berubah menjadi ookista. Setelah ookista matang kemudian pecah, maka keluar sporozoit dan masuk ke kelenjar liur nyamuk yang siap untuk ditularkan ke dalam tubuh manusia. Khusus plasmodium vivax dan plasmodium ovale pada siklus parasitnya di jaringan hati (skizon jaringan), sebagian parasit yang berada dalam sel hati tidak melanjutkan siklusnya ke sel eritrosit tetapi tertanam di jaringan hati di sebut hipnozoit, bentuk hipnozoit inilah yang menyebabkan malaria relaps. Pada penderita yang mengandung hipnozoit, apabila suatu saat dalam keadaan daya tahan tubuh menurun misalnya akibat terlalu lelah atau perubahan iklim (musim hujan), maka hipnozoit akan terangsang untuk melanjutkan siklus parasit dari dalam sel hati ke eritrosit. Setelah eritrosit yang berparasit pecah akan timbul gejala penyakitnya kembali ( Umar Zein, 2005 ).
c. Mekanisme penularan malaria (Dirjen PPM & PL, 2003) Penularan Penyakit Malaria dikenal ada berbagai cara :
1) Penularan secara alamiah (natural infection) : penularan ini terjadi melalui gigitan nyamuk anopheles. Nyamuk ini jumlahnya kurang lebih ada 80 jenis dan dari 80 jenis tersebut terdapat kurang lebih 16 jenis sebagai vector penyebaran malaria di Indonesia
2) Penularan yang tidak alamiah, antara lain :
Seorang yang sakit malaria dapat menulari 25 orang disekitarnya dalam waktu satu musim penularan atau 3 bulan (Pedoman Hidup Sehat, 2006)
a) Malaria bawaan (congenital).
Terjadi pada bayi yang baru dilahirkan karena ibunya menderita malaria, penularan terjadi melalui tali pusat atau plasenta.
b) Secara mekanik.
Penularan terjadi melalui transfusi darah atau melalui jarum suntik yang tidak steril
c) Secara oral ( Melalui Mulut ).
Pada umumnya sumber infeksi malaria pada manusia adalah manusia lain yang sakit malaria baik dengan gejala klinis maupun tanpa gejala klinis. Masa inkubasi pada penularan secara alamiah bagi masing-masing species parasit adalah sebagai berikut (WHO, dalam Gebrak Malaria, 2003) :
a. Plasmodium Falciparum 9 - 14 hari (12).
b. Plasmodium vivax 12 – 17 hari (15).
c. Plasmodium malariae 18 - 40 hari (28).
d. Plasmodium Ovale 16 -18 hari (17).
4. Manifestasi klinis Malaria
Manifestasi klinis malaria yang biasa ditemukan yaitu demam (pengukuran dengan thermometer > 37,5 derajat Celcius) , menggigil, berkeringat dan dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegal-pegal dapat juga ditemukan konjungtiva dan telapak tangan pucat, pembesaran limpa (splenomegali), pembesaran hati (hepatomegali) dan pada keadaan malaria dengan komplikasi dapat ditemukan gangguan kesadaran dalam berbagai derajat, keadaan umum yang sangat lemah (tidak mampu duduk atau berdiri), kejang-kejang, mata dan tubuh kuning. Ketika didapati gejala klinis seperti diatas penderita harus segera dirujuk untuk mendapatkan pemeriksaan secara mikroskopik untuk kepastian diagnosis (Depkes RI, 2006).
5. Pengobatan Malaria
Untuk membunuh semua parasit malaria pada berbagai stadium (di hati maupun di eritrosit), dilakukan pengobatan secara radikal), dengan pengobatan ini diharapkan terjadi kesembuhan serta terputusnya rantai penularan (Wiyono, 2008). Dalam pengobatan malaria, faktor pilihan dan penggunaan obat-obat anti malaria yang efektif disesuaikan dengan jenis kasus malaria yang dihadapi merupakan hal yang sangat penting. Di samping itu, tidak kalah penting adalah pengobatan penunjang (suportif), yang diperlukan untuk memperbaiki gangguan pathofisiologi penderita sebagai komplikasi malaria yang berat, misalnya perbaikan keseimbangan cairan dan elektrolit, keseimbangan asam basa, mengatasi anemia, kejang, hiperpireksia, hipoglikemia, muntah, dan kegagalan fungsi ginjal (Sutisna, 2004).
Obat-obat antimalaria yang umum dipakai dan tergolong lama menurut golongan kimianya adalah :
a. Derivate kuinolin
1) Alkaloid kinkona :kinina, kuinidin, dan kinkonin.
2) 4 amino kuinolin : klorokuin dan amodiakuin
3) 8 amino kuinolin : primakuin
b. Derivate para amino benzoic acid (PABA)
1) Derivate sulfonamide : sulfadoksin, sulfadiazine, sulfalen.
2) Derivate sulfon : dapson.
c. Derivate dihydrofolate reductase (DHFR).
1) Diaminopirimidin : pirimetamin.
2) Biguanid : proguanil
d. Antibiotika.
1) Tetrasiklin
2) Doksisiklin
3) Klindamisin.
Disamping obat-obat antimalaria di atas, searang sudah tersedia beberapa obata yang lebih baru, menurut golongan kimianya adalah ;
a. Golongan 4-kuinolin-metanol : meflokuin
b. Golongan 9-fenatren : halofantrin.
c. Golongan hidroksi-naftokuinon : atovakon.
d. Golongan seskuiterpen lakton : artemisin.
6. Prinsip pemberantasan dan pencegahan Malaria.
Malaria sampai saat ini sulit untuk diatasi yang ditunjukan dengan tingginya angka kejadian malaria diberbagai daerah. Sehubungan dengan kesulitan penanggulangan tersebut maka kebijaksanaan operasional pemberantasan malaria antara lain mengacu pada strategi global yang merupakan kesepakatan Menteri Kesehatan. Negara anggota WHO dalam pertemuan di Amsterdam tahun 1992 yang mempunyai unsur teknis dasar sebagai berikut : Diagnosa cepat dan pengobatan dini, pemberantasan vector secara selektif dan berkesinambungan, mencegah dan menanggulangi wabah secara dini, melihat secara berkala situasi malaria khususnya dari aspek ekologi dan sosial ekonomi. ( Dirjen P2M & PLP, 2005 ).
Kebijakan-kebijakan yang diambil dalam pemberantasan malaria antara lain penekanan pada desentralisasi, keterlibatan masyarakat dalam pemberantasan malaria, dan membangun kerja sama antarsektor, dan lembaga donor. Di Indonesia pada tanggal 8 April 2000 bertempat di Nusa Tenggara Timur, Menteri Kesehatan mencanangkan “Gebrak Malaria” yang merupakan gerakan nasional seluruh aspek bangsa dalam upaya memberantas malaria secara intensif yang melibatkan jaringan kerjasama pemerintah, swasta, masyarakat, LSM, badan internasional dan penyandang dana. Program malaria yang telah dan sedang dilakukan adalah: Posmaldes (Pos Malaria Desa) dan Gebrak Malaria (Gerakan Berantas Kembali Malaria) adalah bentuk operasional dari Roll Back Malaria (RBM). Gebrak Malaria memprioritaskan kemitraan antara pemerintah, swasta / sector bisnis, dan masyarakat untuk mencegah penyebaran penyakit malaria ( Koban, W. Antonius 2005 ).
Adapun kegiatan yang ditempuh dalam Program pemberantasan malaria di Indonesia saat ini terdiri atas tiga kegiatan utama (Wiyono, 2008)
a. Desa rawan
1) Menemukan dan mengobati penderita.
2) Melakukan surveilans rutin.
3) Melakukan mass fever survey
4) Pengendalian vector
5) Memetakan lingkungan
6) Melakukan survey migrasi.
7) Melakukan survey entomologi
8) Memberikan penyuluhan kepada masyarakat.
b. Low Focus Zone (LFZ)
1) Melakukan semua tindakan di desa rawan.
2) Melakukan tes resistensi terhadap klorokuin dan insektisida
3) Mengendalikan vector dengan antilarva
4) Menebar ikan
5) Menanam padi secara serentak
6) Memperbaiki konstruksi pengairan.
c. High Focus Zone (HFZ)
1) Melakukan semua tindakan di LFZ.
2) Melakukan penyemprotan di rumah-rumah.
Dalam hal pemberantasan Malaria selain pengobatan juga dilakukan kegiatan pencegahan diantaranya adalah :
a. Berbasis masyarakat
1) Pola perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masyarakat harus selalau ditingkatkan melalui penyuluhan kesehatan, pendidikan kesehatan, diskusi kelompok maupun melalui kampanye masal untuk mengurangi tempat sarang nyamuk, kegiatan ini meliputi menghilangkan genangan air kotor, di antaranya dengan mengalirkan air atau menimbun atau mengeringkan barang atau wadah yang memungkinkan sebagai tempat air tergenang.
2) Menemukan dan mengobati penderita sedini mungkin akan sangat membantu mencegah penularan.
3) Melakukan penyemprotan melalui kajian mendalam tentang bionomic anopheles seperti waktu kebiasaan menggigit, jarak terbang, dan resistensi terhadap insektisida.
b. Berbasis pribadi.
1) Pencegahan gigitan nyamuk antara lain dengan ; tidak keluar pada senja dan malam hari, gunakan repelan atau zat antinyamuk lainnya, konstruksi rumah tahan nyamuk, memasang kassa anti nyamuk, penggunaan kelambu yang mengandung insektisida dan penyemprotan kamar dengan obat yamuk atau obat nyamuk bakar.
2) Pengobatan profilaksis bila akan memasuki daerah endemis.
3) Pencegahan dan pengobatan malaria pada wanita hamil.
4) Informasi tentang donor darah, calon donor yang berasal dari daerah endemis atau menunjukan gejala klinis malaria.
B. Tinjauan Tentang Pendidikan
Menurut Suparlan (2008). Pendidikan adalah segala jenis pengalaman kehidupan yang mendorong timbulnya minat belajar untuk mengetahui dan kemudian bisa mengerjakan sesuatu hal yang telah diketahui itu, keadaan seperti itu berlangsung di dalam segala jenis dan bentuk lingkungan sosial sepanjang kehidupan. Selanjutnya, setiap jenis dan bentuk lingkungan itu mempengaruhi pertumbuhan individu dalam hal potensi-potensi fisis, spiritual, individual, sosial, dan religious, sehingga menjadi manusia seutuhnya; manusia yang menyatu dengan jenis dan sifat lingkungan setempat. Dengan daya akal pikirannya manusia mulai menentukan konsep pendidikan dengan menentukan tujuan dan sasaran, untuk selanjutnya mengatur dan menyusun perencanaan, langkah-langkah kebijakan, dan sebagainya, sesuai dengan tujuan dan sasaran pendidikan itu.
Pendidikan adalah upaya sadar manusia untuk membuat perubahan dan perkembangan agar kehidupannya menjadi lebih baik dalam artian lebih maju.
Menurut Y. B Mantra yang dikutip oleh Notoatmojo pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga prilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam motivasi untuk sikap berperan serta dalam pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan , sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Tingkat pendidikan dibagi menjadi 3 yaitu :
1. Pendidikan rendah/dasar, termasuk tamat SD, tidak tamat SD dan tidak sekolah.
2. Pendidikan menengah, termasuk tamat SLTP dan SLTA.
3. Pendidikan tinggi, termasuk Tamat Akademi atau Perguruan tinggi.
Pendidikan bertujuan memperluas pemahaman seseorang tentang dunia yang ada disekelilingnya. Dengan adanya pemahaman maka seseorang akan lebih tepat dalam menanggapi / mempersepsi suatu stimulus. Proses dan kegiatan pendidikan mencakup seluruh proses kehidupan dan segala bentuk interaksi individu dengan lingkunganya baik secara formal maupun informal. Inti dalam kegiatan pendidikan adalah proses belajar mengajar dengan hasil yang diharapkan adalah seperangkat perubahan perilaku. Seseorang dengan pendidikan tinggi akan berbeda perilakunya dengan orang yang berpendidikan lebih rendah (Pius, 2002)
C. Tinjauan Tentang Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi karena adanya pancaindera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan adalah realita yang berasal dari luar diri manusia yang lalu menjadi mengerti dan dipahami, yakni diketahui melalui kegiatan empiris yaitu pengideraan dan atau penalaran rasional atas hasil kegiatan empiris sebelumnya, sedangkan ilmu pengetahuan adalah sistematisasi pemahaman tentang filsafat (Peter Soedojo, 2004).
Pengetahuan atau kongnitif merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behavior). Sifat dasar manusia adalah keingintahuan tentang suatu dorongan untuk memenuhi keingintahuan manusia tersebut menyebabkan seseorang melakukan upaya-upaya pencarian selama proses interaksi dengan lingkungannya menghasilkan suatu pengetahuan bagi orang tersebut. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pada awal perkembangan pengetahuan, pengetahuan yang mula-mula dimiliki manusia adalah pengetahuan biasa atau yang timbul dari pengalaman indera manusia. Dan karena keingintahuan manusia begitu besar, maka ia sendiri berusaha untuk memenuhi dan mencari jawaban dan kebenarannya.
Jenis pengetahuan berdasarkan tingkatannya dapat dikelompokkan atas keempat kelompok yaitu:
1. Pengetahuan biasa atau pengetahuan indera yaitu pengetahuan yang bersentuhan langsung dengan panca indera.
2. Pengetahuan ilmiah atau pengetahuan ilmiah biasa (science) yaitu pengetahuan yang berdasarkan bukti yang nyata (empiris) dan bukti logis atau dapat dibuktikan hubungan sebab akibat.
3. Pengetahuan filosofi dan ilmu filsafat yaitu ilmu yang umum yang mempelajari hakikat atau kebenaran segala sesuatu yang ada dengan menggunakan pikiran secara mendalam.
4. Pengetahuan theologies atau pengetahuan tentang agama.
Menurut Notoatmodjo (2005), pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan adalah kongnitif dominan yang mempunyai enam tingkatan sebagai berikut:
1. Tahu (Knowledge)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk meningkatkan kembali (recall) sesuatunya yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi atau mengaplikasikan prinsip yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.
4. Analisa (Anlysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau obyek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5. Sintesis (Syntesis)
Sintesis adalah kemampuan merangkum ataupun menyusun kembali bentuk semula maupun bentuk yang lain dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki.
6. Evaluation (Evaluasi)
Evaluasi adalah kemampuan mengetahui secara menyeluruh dari semua bahan yang telah dipelajarinya dan juga mampu menilai sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan
Pengetahuan kesehatan (health knowledge) adalah mencakup apa yang diketahui oleh seseorang terhadap cara-cara memelihara kesehatan meliputi :
1. Pengetahuan tentang penyakit menular dan tidak menular.
2. Pengetahuan tentang faktor-faktor yang terkait dan atau mempengaruhi kesehatan.
3. Pengetahuan tentang fasilitas pelayanan kesehatan yang professional maupun yang tradisional.
4. Pengetahuan untuk menghindari kecelakaan.
Indikator pengetahuan kesehatan adalah “tingginya pengetahuan responden tentang kesehatan, atau besarnya presentase kelompok responden atau masyarakat tentang variable-variabel atau komponen-komponen kesehatan (Notoatmodjo, 2005).


D. Tinjauan Tentang Sikap.
Sikap adalah juga respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, sikap dapat dikatakan suatu sindroma atau kumpulan gejala dalam merespon stimulus atau objek yang melibatkan pikiran, perasaan,perhatian dan gejala kejiwaan lainnya.
Newcomb, seorang ahli psikologi sosial menyatakan, bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu.
Allport (1954) seperti yang dikutip Notoatmodjo (2005) menjelaskan bahwa sikap memiliki tiga komponen pokok, yakni :
1. Kepercayaan atau keyakinan, ide dan konsep terhadap suatu obyek. Kepercayaan datang dari apa yang kita lihat atau apa yang kita ketahui. Berdasarkan apa yang kita lihat kemudian terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik suatu obyek.
2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap obyek yang mengandung arti bagaimana penilaian orang terhadap obyek. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu.
3. Kecendrungan untuk bertindak atau bertingkah laku. Komponen konatif dalam sikap menunjukan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapi.
Ketiga komponen tersebut bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam menentukan sikap yang utuh pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting, sedangkan menurut tingkatan sikap terdiri dari :
1. Menerima (Receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek).
2. Menanggapi (Responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari pada sikap.
3. Menghargai (Valuing)
Menghargai diartikan subyek, atau seseorang memberikan nilai yang positif terhadap obyek atau stimulus, dalam arti membahasnya dengan orang lain dan bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain berespon.
4. Bertanggung jawab (Responsible)
Segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko. Ini merupakan tingkatan sikap yang paling tinggi.
Sikap terhadap kesehatan (health attitude) adalah pendapat atau penilaian orang terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan, yang mencakup sekurang-kurangnya 4 variabel yaitu:
1. Sikap terhadap penyakit menular dan tidak menular, mencakup jenis, tanda-tanda atau gejala serta penyebabnya.
2. Sikap terhadap faktor-faktor yang terkait dan atau mempengaruhi kesehatan.
3. Sikap tentang fasilitas pelayanan kesehatan yang professional maupun yang tradisional.
4. Sikap untuk menghindari kecelakaan.
Pengukuran sikap (attitude) dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung.
Menurut Notoatmodjo (1993) bahwa sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau dari orang lain yang paling dekat. Sikap membuat seseorang untuk lebih dekat atau menjauhi seseorang atau sesuatu, sikap yang sudah positif terhadap nilai-nilai kesehatan tidak selalu terwujud dalam suatu tindakan nyata.
E. Kerangka Konsep dan Hipotesis
1. Dasar variabel yang diteliti
a. Malaria
Malaria merupakan penyakit endemis dan masalah kesehatan yang cukup besar di Indonesia. Penyebarannya hampir merata diseluruh kepulauan di Indonesia menyebabkan sulitnya upaya pemberantasan penyakit ini. Pada penelitian ini akan dipelajari hubungan pendidikan, pengetahuan dan sikap pasien terhadap penyakit malaria. Hal ini dimaksudkan untuk mencari solusi yang tepat dalam pemberantasan malaria terutama dalam memberdayakan masyarakat secara aktif dalam perberantasannya.

b. Pendidikan.
Hubungan antara tingkat pendidikan pasien memegang peranan yang sangat penting. Notoatmojo mengungkapkan bahwa pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga prilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam motivasi. Sikap berperan serta dalam pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan , sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup., Seseorang dengan pendidikan tinggi akan berbeda perilakunya dengan orang yang berpendidikan lebih rendah. Jadi semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki termasuk dalam menentukan tindakan yang positif untuk dirinya.
c. Pengetahuan
Pengetahuan atau aspek kognitif merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Sifat dasar manusia adalah keingintahuan tentang suatu dorongan untuk memenuhi keingintahuan manusia tersebut menyebabkan seseorang melakukan upaya pencaharian selama proses interaksi dengan lingkungannya menghasilkan suatu pengetahuan bagi orang tersebut. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Ketika seseorang mengetahui tentang hal negatif dari suatu hal tentu ia akan berusaha menghindarinya.
d. Sikap
Pengetahuan tentang segi negatif dari penyakit malaria akan menyebabkan pasien menentukan sikap terhadap penyakit malaria di daerah tempat tinggalnya. Secara teoritis jika penyakit malaria lebih banyak mengandung segi negatif, maka sikap positiflah yang akan muncul dari pasien. Bila sikap positif telah tumbuh maka besar kemungkinan seseorang akan mempunyai niat untuk berperilaku sehat terhadap penyakit malaria.
2. Bagan kerangka konsep







Keterangan :
: Variabel Independen.
: Variabel Dependent
: Variabel Independent yang tidak diteliti

3. Hipotesis
a. Hipotesis Nol (Ho)
1) Tidak ada hubungan antara pendidikan pasien terhadap kejadian malaria.
2) Tidak ada hubungan antara pengetahuan pasien terhadap kejadian malaria.
3) Tidak ada hubungan antara sikap pasien terhadap kejadian malaria.
b. Hipotesis Alternatif (Ha)
1) Ada hubungan antara pendidikan pasien terhadap kejadian malaria.
2) Ada hubungan antara pengetahuan pasien terhadap kejadian malaria.
3) Ada hubungan antara sikap pasien terhadap kejadian malaria.








BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian non eksperimen dengan metode pendekatan deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional yang bertujuan untuk mencari hubungan pendidikan, pengetahuan dan sikap terhadap kejadian malaria secara bersamaan, dengan langkah-langkah penelitian sebagai berikut (Notoadmodjo, 2003).
1. Mengidentifikasi variabel-variabel penelitian yaitu faktor penyebab dan faktor efek.
2. Menetapkan subyek penelitian.
3. Melakukan observasi atau pengukuran variabel-variabel yang merupakan faktor penyebab dan efek berdasarkan status keadaan variabel pada saat pengumpulan data.
4. Melakukan analisis hubungan dengan cara membandingkan proporsi antara kelompok hasil pengukuran.
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Yang menjadi Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang yang datang berobat ke Puskesmas Maunori dengan tanda gejala malaria.

2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang datang ke Puskesmas Maunori selama waktu penelitian terhitung sejak tanggal 18 April sampai dengan 05 Mei 2009, dengan tanda dan gejala malaria yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 129 orang yang telah ditetapkan pada usulan proposal menggunakan rumus penarikan sampel.
Adapun kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan oleh peneliti adalah sebagai berikut :
a. Kriteria Inklusi
1) Pasien yang bersedia diteliti.
2) Pasien yang memiliki tanda dan gejala malaria baik kasus baru maupun kasus lama
3) Pasien yang kooperatif
4) Pasien yang berumur 15-60 tahun.
b. Kriteria eksklusi
1) Pasien yang tidak bersedia diteliti
2) Pasien yang tidak memiliki tanda gejala malaria
3) Pasien yang tidak kooperatif
4) Pasien yang berumur < 15 tahun dan > 60 tahun.
C. Definisi Operasional dan Kriteria Obyektif
1. Penyakit Malaria dalam penelitian ini adalah ditemukannya tanda dan gejala klinis berupa demam, menggigil, berkeringat, sakit kepala, pembesaran limpa, ditemukan konjungtiva dan telapak tangan pucat, mual, muntah, nyeri otot atau pegal-pegal. Semua gejala ini didasari oleh pemeriksaan dokter.
2. Pendidikan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jenjang pendidikan formal yang pernah dilalui oleh responden.
Kriteria Obyektif :
Cukup = Bila responden minimal tamat SLTA
Kurang = Bila tidak memenuhi kriteria tersebut.
3. Pengetahuan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengetahuan responden tentang pengertian malaria, gejala, penyebab, cara penularan, pengobatan serta pemahaman tentang cara pencegahan dan pemberantasan vector nyamuk.
Kriteria Obyektif :
Cukup = Apabila nilai jawaban responden ≥ 4,5 dari nilai rata rata
Kurang = Apabila nilai jawaban responden < 4,5 dari nilai rata- rata.
4. Sikap yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tanggapan dari responden yang ditunjukan dengan pernyataan positif ataupun negatif terhadap kejadian penyakit malaria.
Kriteria Obyektif menggunakan skala likert, Sugiono, 2007 :
Positif = Apabila nilai jawaban responden ≥ 62,5 % dari total jawaban
Negatif = Apabila nilai jawaban responden < 62,5 % dari total jawaban.

D. Cara Pengumpulan Data
Dalam penelitian data dikumpulkan dengan menggunakan teknik koesioner disusun dengan mengacu pada uraian pada definisi operasional variabel penelitian untuk mendapatkan data yang diperlukan. Data yang didapat berupa data primer yang diperoleh secara langsung dari pasien dengan panduan instrument koesioner yang tersusun secara terstruktur mengunakan skala Guttman dan Likert.
Untuk mendapatkan data tingkat pendidikan diambil dari identitas umum reponden pada lembar koesioner yang dirancang dengan model pilihan ganda atau multiple choice dimana responden memilih satu jawaban sesuai tingkat pendidikannya, dengan pilihan : 1 = tamat SD, 2 = tamat SLTP, 3 = tamat SLTA dan 4 = tamat Akademi / Perguruan Tinggi.
Untuk menilai pengetahuan responden tentang penyakit malaria dibuat koesioner sebanyak 10 pertanyaan menggunakan dengan skala Guttman, yang terdiri dari jawaban 1= Ya dan Tidak = 2 dan diberi skor 1 untuk jawaban Ya dan 0 untuk jawaban Tidak kemudian digunakan nilai tertinggi ditambah 1 dan dibagi dua untuk mendapatkan nilai rata-rata dan hasilnya menunjukan pengetahuan responden tentang penyakit malaria, Cukup jika jawabannya lebih dari atau sama dengan nilai mean, dan kurang bila skor jawabannya kurang dari nilai mean.
Penilaian sikap terhadap kejadian malaria, menggunakan 6 pernyataan koesioner dengan skala likert yang terdiri dari pernyataan Sangat Setuju = 4, Setuju = 3, Tidak Setuju = 2 dan Sangat Tidak Setuju = 1. Untuk skor tertinggi 4 dikali jumlah pertanyaan sebanyak 6 buah sama dengan 24 =100% dan untuk skor terendah 1 X 6 sama dengan 6 = 25%, persen tertinggi dikurang persenn terendah / 100% - 25% = 75%, penilaian sikap dibagi dua positif dan negatif sehingga 75% dibagi 2 =37,5%. 100 - 37,5 = 62,5%. Pernyataan positif jika pernyataan responden ≥ 62,5% dan pernyataan negatif bila pernyataan responden < 62,5% dari total pernyataan.
E. Langkah Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan secara manual (dengan mengisi koesioner yang disediakan), selanjutnya menggunakan bantuan program SPSS for Windows dengan urutan sebagai berikut :
1. Selecting.
Seleksi merupakan pemilihan untuk mengklarifikasi data menurut kategori.
2. Editing.
Editing dilakukan untuk meneliti setiap daftar pertanyaan yang sudah diisi, editing meliputi kelengkapan pengisian, kesalahan pengisian dan konsistensi dari setiap jawaban.
3. Koding
Koding merupakan tahap selanjutnya dengan memberi kode pada jawaban dari responden tersebut.



4. Tabulasi Data
Setelah dilakukan kegiatan editing dan koding dilanjutkan dengan mengelompokan data ke dalam suatu tabel menurut sifat-sifat yang dimiliki sesuai dengan tujuan penelitian.
5. Analisa Data
Setelah dilakukan tabulasi data, kemudian data diolah dengan menggunakan metode uji statistic yaitu analisis univariat dilakukan untuk variabel tunggal yang dianggap terkait dengan penelitian dan analisis bivariat untuk melihat distribusi beberapa variabel yang dianggap terkait dengan menggunakan uji Chi-square (x²) dengan kemaknaan 0,05.
F. Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian, peneliti memandang perlu adanya rekomendasi dari pihak institusi atas pihak lain dengan mengajukan permohonan ijin kepada instansi tempat penelitian dalam hal ini Kepala Puskesmas Maunori. Setelah mendapat persetujuan barulah dilakukan penelitian dengan menekankan masalah etika penelitian yang meliputi :
1. Informed consent
Lembar persetujuan yang akan diberikan pada responden yang akan diteliti dan memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul penelitian dan manfaat penelitian.


2. Anonymity) Tanpa nama
Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak mencantumkan nama responden, tetapi lembar tersebut diberikan kode.
3. Confidential
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti dan hanya kelompok data tertentu yang dilaporkan sebagai hasil penelitian.
















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Maunori, Kecamatan Keo Tengah Kabupaten Nagekeo, merupakan Puskesmas defenitif rawat jalan yang berdiri pada tahun 2006 dan pada tanggal: 01 Agustus 2008 Puskesmas Maunori beralih status menjadi Puskesmas rawat inap dengan Visi dan Misi Yaitu “Meningkatkan kualitas hidup sehat dengan memberdayakan masyarakat mengenal masalah kesehatannya mencapai Keo Tengah sehat 2016”. Adapun program program pokok puskesmas yang dijalankan adalah KIA/KB, Gizi, Imunisasi, PPM, Pengobatan Dasar, dan UKS/UKGS.
Secara geografis letak wilayah Puskesmas Maunori berada di sebelah Selatan Kabupaten Nagekeo tepatnya pantai Selatan, yang berbatasan sebelah Barat dengan Kecamatan Mauponggo, sebelah Timur dengan Kecamatan Nangaroro dan Utara berbatasan dengan Kecamatan Boawae. Dengan geografi dataran tinggi daerah pegunungan dan dataran rendah daerah sepanjang bibir pantai selatan Flores.
Secara administrasi dan pelayanan kesehatan Puskesmas maunori berada di kecamatan Keo Tengah yang mencakup 14 desa binaan dan membawahi 4 Puskesmas Pembantu yaitu Pustu Mundemi, Pustu Lewa Ngera, Pustu Maunori dan Pustu Koto Diru Mali dan 8 buah Pondok Bersalin Desa (Polindes) yaitu Polindes Bajo, Polindes Pautola, Polindes Koto Wuji Barat, Polindes Koto Wuji Timur, Polindes Witu Romba Ua, Polindes Udi Woro Watu dan Polindes Ngera serta terdapat sebuah Pos kesehatan desa (Poskesdes) yaitu Poskesdes Kelimari.
Secara demografi wilayah Puskesmas Maunori memilki jumlah penduduk yang diambil data terakhir bulan Maret 2009 sebanyak 14.644 jiwa, dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 6.721 jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 7.923 jiwa, dengan proporsi sumber mata pencaharian penduduk terbanyak adalah sebagai petani.
Sumber Daya Manusia dan Ketenagaan Puskesmas Maunori terdiri dari :
a. Dokter Umum : 2 orang.
b. Perawat : 9 terdiri dari D3 :7 orang, SPK : 2 orang.
c. Perawat Gigi : 1 orang (SPRG)
d. Bidan : 8 terdiri dari D3 : 1 orang, Bidan A: 7 orang
e. Tenaga Farmasi : 1 orang (SMF)
f. Tenaga Analisis Labor : 2 orang (D3 Analis).
g. Sanitarian : 1 orang (D1 Kesmas).
h. Tenaga non medis : 1 orang sopir, 1 orang tenaga administrasi dan 1 orang juru masak.
Sepuluh jenis penyakit terbanyak yang terdapat di Puskesmas Maunori dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4. 1.
10 Jenis Penyakit Terbanyak di Puskesmas Maunori Tahun 2008
No Jenis Penyakit Jumlah
1 ISPA 3191
2 Malaria Klinis 2342
3 Penyakit Otot dan Tulang 1021
4 Penyakit Kulit dan Infeksi 585
5 Penyakit Infeksi Usus Lain 499
6 Hipertensi 327
7 Diare 291
8 Scabies 201
9 Penyakit Kulit Alergi 272
10 Malaria Tropika 184
Jumlah 8.913
Sumber: Data Skunder Puskesmas Maunori Tahun 2008

2. Analisis Univariat.
Berdasarkan hasil pengolahan data, maka diperoleh hasil penelitian tentang kejadian malaria di wilayah Puskesmas maunori adalah sebagai berikut :
a. Deskripsi karakteristik responden.
1) Umur
Tabel 4. 2 :
Distribusi Responden Menurut Umur di Puskesmas Maunori Tahun 2009

Umur Frekuensi %
≤ 20 tahun 11 8,5
21-30 tahun 59 45,7
31-40 tahun 35 27,1
41-50 tahun 14 10,9
51-60 tahun 10 7,8
Total 129 100
Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel dan grafik diatas diketahui jumlah responden penelitian terbanyak berada pada golongan umur 21-30 tahun yaitu 59 orang (45,7%) dan paling rendah berada pada golongan umur 51-60 tahun sebanyak 10 orang (7,8%).
2) Jenis Kelamin
Tabel 4. 3 :
Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin di Puskesmas Maunori Tahun 2009

Jenis Kelamin Frekuensi %
Laki-laki 63 48,8
Perempuan 66 51,2
Total 129 100
Sumber : Data Primer

Tabel 4.3 dan grafik 4.2 menunjukan jumlah responden terbanyak adalah perempuan sebanyak 66 orang (51,2%) dan responden laki-laki sebanyak 63 orang (48,8%)
3) Pendidikan
Tabel 4. 4 :
Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan di Puskesmas Maunori Tahun 2009

Tingkat Pendidikan Frekuensi %
Tamat SD 30 23,3
Tamat SLTP 56 43,4
Tamat SLTA 29 22,5
Tamat Akademi/PT 14 10,9
Total 129 100
Sumber : Data Primer

Berdasarkan data diatas terlihat bahwa sebagian besar responden berpendidikan SLTP yaitu sebanyak 56 orang (43,4%) dan sebagian kecil responden yang berpendidikan tamat Akademi / Perguruan Tinggi yaitu sebanyak 14 orang (10,9%)
4) Pekerjaan.
Tabel 4. 5 :
Distribusi Responden Menurut Pekerjaan di Puskesmas Maunori Tahun 2009

Pekerjaan Frekuensi %
PNS 14 10,9
ABRI 2 1,6
Petani 56 43,4
Nelayan 39 30,2
Pedagang 9 7,0
Lain-lain 9 7,0
Total 129 100
Sumber : Data Primer

Berdasarkan data diatas sebagian besar responden mempunyai pekerjaan sebagai petani yaitu 56 orang (43,4) dan yang paling sedikit adalah ABRI yaitu 2 orang (1,6%).
b. Deskripsi tanggapan responden.
1) Pengetahuan Responden Tentang Malaria
Tabel 4. 6.
Distribusi Pengetahuan Responden Tentang Malaria di Puskesmas Maunori Tahun 2009

Pengetahuan Frekuensi %
Cukup 46 35,7
Kurang 83 64,3
Total 129 100
Sumber : Data Primer


Berdasarkan data tersebut diatas sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang kurang tentang kejadian malaria yaitu 83 orang (64,3%) dan yang mempunyai pengetahuan cukup sebanyak 46 orang (35,7%).
2) Sikap Responden Terhadap Malaria
Tabel 4. 7.
Distribusi Sikap Responden Terhadap Malaria di Puskesmas Maunori Tahun 2009

Sikap Frekuensi %
Positif 97 75,2
Negatif 32 24,8
Total 129 100
Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel dan grafik diatas sebagian besar responden mempunyai sikap positif terhadap malaria yaitu 97 responden (75,2%) dan sebagian kecil memiliki sikap negatif terhadap malaria yaitu 32 orang (24,8%).
3) Kejadian Menderita Malaria Sebelumnya
Tabel 4. 8. :
Distribusi Riwayat Pernah Menderita Malaria Sebelumnya di Puskesmas Maunori Tahun 2009
Pernah Malaria Frekuensi %
Ya 107 82,9
Tidak 22 17,1
Total 129 100
Sumber : Data Primer


Berdasarkan tabel dan grafik diatas terlihat bahwa dari 129 responden terdapat 107 (82,9%) yang pernah menderita malaria dan sedangkan 22 (17,1%) respondentidak pernah menderita malaria sebelumnya.

3. Analisis Bivariat
a. Distribusi hubungan tingkat pendidikan responden dengan kejadian malaria
Tabel 4. 9.
Distribusi Hubungan Tingkat Pendidikan Responden dengan kejadian malaria di Puskesmas Maunori Tahun 2009

Pendidikan Kejadian Malaria P X2
Ya Tidak Total
n % n % n %
Cukup 40 31 3 2,3 43 33,3 0,045 0,05
Kurang 67 51,9 19 14,7 86 66,7
Total 107 82,9 22 17,1 129 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan data diatas terlihat bahwa dari 129 responden terdapat 86 responden (66,6%) dengan pendidikan kurang yang pernah terpapar malaria sebanyak 67 responden (51,9%) dan tidak pernah terpapar malaria sebanyak 19 responden (14,7%). Terdapat 43 responden (33,3%) dengan pendidikan cukup yang pernah terpapar malaria 40 responden (31%) dan yang tidak pernah terpapar malaria sebanyak 3 responden (2,3%). Setelah dilakukan uji statistik dengan fisher exact test diperoleh nilai p = 0,045 < α (0,05), sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Jadi, terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan responden terhadap kejadian malaria .
b. Distribusi hubungan tingkat pengetahuan responden dengan kejadian malaria
Tabel 4. 10.
Distribusi Hubungan Tingkat Pengetahuan Responden dengan kejadian malaria di Puskesmas Maunori Tahun 2009

Pengetahuan Kejadian Malaria P X2
Ya Tidak Total
n % n % n %
Cukup 43 33,3 3 2,3 46 35,7 0,026 0,05
Kurang 64 49,6 19 14,7 83 64,3
Total 107 82,9 22 17,1 129 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan data pada tabel diatas dari 129 responden yang diteliti terdapat 83 orang dengan pengetahuan kurang dan pernah terpapar malaria sebelumnya sebanyak 64 responden (49,6%) dan tidak pernah menderita malaria sebelumnya 19 responden (14,7%). Terdapat 46 (35,7%) responden dengan pengetahuan cukup yang pernah terpapar malaria sebelumnya sebanyak 43 responden (33,3%) dan yang tidak pernag terpapar malaria sebanyak 3 (2,3%). Setelah dilakukan uji statistik dengan fisher exact test diperoleh nilai p = 0,026 < α (0,05) sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Jadi ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan pasien dengan kejadian malaria.
c. Distribusi Hubungan Sikap Responden dengan kejadian malaria di Puskesmas Maunori Tahun 2009.
Tabel 4. 11.
Distribusi Hubungan Sikap Responden dengan kejadian malaria di Puskesmas Maunori Tahun 2009.

Sikap Kejadian Malaria P X2
Ya Tidak Total
n % n % n %
Positif 85 65,9 12 9,3 97 75,2 0,027 0,05
Negatif 22 17,1 10 7,8 32 24,8
Total 107 82,9 22 17,1 129 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan data pada tabel diatas terlihat bahwa dari 129 responden yang diteliti terdapat 97 orang (75,2%) yang memberikan tanggapan positif dan pernah terpapar malaria sebanyak 85 orang (65,9%) dan pernah terpapar malaria sebelumnya 12 responden (9,3%). Terdapat 32 responden (24,8%) yang mempunyai sikap negatif dengan pernah terpapar malaria sebanyak 22 responden (17,1%) dan tidak pernah sebanyak 10 responden (7,8%). Setelah dilakukan uji statistik dengan fisher exact test diperoleh nilai p = 0,027 < α (0,05) sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Jadi terdapat hubungan yang berarti antara sikap responden terhadap kejadian malaria.


B. Pembahasan.
Berdasarkan pada hasil penelitian tentang faktor yang behubungan dengan kejadian malaria, dalam hal ini hubungan faktor pendidikan, pengetahuan dan sikap terhadap kejadian malaria yang dilakukan terhadap 129 responden di Wilayah kerja Puskesmas Maunori Kecamatan Keo Tengah Kabupaten Nagekeo sejak tanggal 18 April sampai dengan 05 Mei 2009 serta berdasar pada hasil pengolahan data yang diarahkan sesuai dengan tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria maka dapat dilihat sebagai berikut :
1. Analisis hubungan tingkat pendidikan responden terhadap kejadian malaria
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden memiliki pendidikan kurang yaitu tingkat pendidikan SLTP dengan demikian berpotensi untuk terjadinya kejadian malaria.
Dalam penelitian yang dilakukan Konstantiunus Ua didapatkan hasil bahwa pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan yang tetap atau permanen didalam kebiasaan tingkah lakunya, pikiran dan sikapnya. Pendidikan juga mengakibatkan seseorang dalam masyarakat memiliki faktor penentu yang dapat menjadi pendorong bagi perubahan perilaku, dalam hal ini dapat dikatakan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka perilaku dan pola pikir dapat berubah dari yang tidak tahu tentang malaria menjadi tahu.
Menurut Suparlan (2008). Pendidikan adalah segala jenis pengalaman kehidupan yang mendorong timbulnya minat belajar untuk mengetahui dan kemudian bisa mengerjakan sesuatu hal yang telah diketahui itu, keadaan seperti itu berlangsung di dalam segala jenis dan bentuk lingkungan sosial sepanjang kehidupan. Selanjutnya, setiap jenis dan bentuk lingkungan itu mempengaruhi pertumbuhan individu dalam hal potensi-potensi fisis, spiritual, individual, sosial, dan religious, sehingga menjadi manusia seutuhnya; manusia yang menyatu dengan jenis dan sifat lingkungan setempat.
Pendidikan adalah upaya sadar manusia untuk membuat perubahan dan perkembangan agar kehidupannya menjadi lebih baik dalam artian lebih maju.
Menurut Y. B Mantra yang dikutip oleh Notoatmojo pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam motivasi untuk sikap berperan serta dalam pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan , sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki.
Berdasarkan pada pengamatan dan asumsi peneliti bahwa semakin rendah tingkat pendidikan seseorang sangat berpotensi untuk seseorang tersebut kurang memahami apa itu penyakit.
2. Analisis hubungan pengetahuan responden tentang kejadian malaria
Pada hasil penelitian yang dilakukan didapatkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang kurang tentang penyakit malaria.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Rahayu Budi Utami diketahui bahwa pengetahuan yang baik akan menunjang terwujudnya perilaku yang baik pula. Semakin tinggi pengetahuan, semakin luas pula pemahaman tentang sikap dan perilaku individu terhadap apa yang dihadapinya, sehingga diharapkan individu mampu mengambil keputusan dalam setiap tindakan yang akan dilakukan pada saat sakit termasuk dalam hal ini adalah pengambilan keputusan yang tepat dalam penanganannya.
Ira Analita dalam penelitian yang dilakukannya, mengatakan peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh di pendidikan formal akan tetapi dapat diperoleh juga dari pendidikan nonformal seperti melalui media masa ataupun media elektronik hal ini dapat meningkatkan pemahaman individu terhadap masalahnyang dihadapinya, hal senada dapat berlaku bagi individu yang mengalami atau pernah terpapar dengan malaria. Menurut Notoatmodjo (2003) Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi karena adanya panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Menurut Notoatmodjo (2005) Pengetahuan kesehatan (health knowledge) adalah mencakup apa yang diketahui oleh seseorang terhadap cara-cara memelihara kesehatan meliputi :
1. Pengetahuan tentang penyakit menular dan tidak menular.
2. Pengetahuan tentang faktor-faktor yang terkait dan atau mempengaruhi kesehatan.
3. Pengetahuan tentang fasilitas pelayanan kesehatan yang professional maupun yang tradisional.
4. Pengetahuan untuk menghindari kecelakaan.
Indikator pengetahuan kesehatan adalah “tingginya pengetahuan responden tentang kesehatan, atau besarnya presentase kelompok responden atau masyarakat yang mengetahui tentang variabel-variabel atau komponen-komponen kesehatan. Semakin baik pengetahuan seseorang tentang penyakit malaria, maka semakin kecil pula kemungkinan orang tersebut menderita malaria.
Berdasarkan pada pengamatan dan asumsi peneliti bahwa semakin rendah tingkat pengetahuan seseorang sangat berpotensi untuk seseorang tersebut menderita malaria.
3. Analisis hubungan sikap responden terhadap kejadian malaria
Pada hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden memiliki sikap positif, dengan demikian berpotensi untuk mengerti dan memahami tentang kejadian malaria.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan Rahayu Budi Utami dikatakan bahwa responden dengan sikap yang baik lebih berpeluang untuk mewujudkan atau berperilaku yang baik. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ajzen (1988)dikutip oleh Azwar yang menyatakan bahwa keyakinan atau sikap seseorang berasal dari pengalaman masa lalu yang dipengaruhi oleh informasi tidak langsung mengenai perilaku dan faktor-faktor lain untuk melakukan perbuatan atau tindakan secara sistematis.
Sikap adalah juga respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, sikap dapat dikatakan suatu sindroma atau kumpulan gejala dalam merespon stimulus atau objek yang melibatkan pikiran, perasaan,perhatian dan gejala kejiwaan lainnya.
Newcomb, seorang ahli psikologi sosial menyatakan, bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu.
Sikap terhadap kesehatan (health attitude) adalah pendapat atau penilaian orang terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan, yang mencakup sekurang-kurangnya 4 variabel yaitu:
1. Sikap terhadap penyakit menular dan tidak menular, mencakup jenis, tanda-tanda atau gejala serta penyebabnya.
2. Sikap terhadap faktor-faktor yang terkait dan atau mempengaruhi kesehatan.
3. Sikap tentang fasilitas pelayanan kesehatan yang profesional maupun yang tradisional.
4. Sikap untuk menghindari kecelakaan.
Pengukuran sikap (attitude) dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung.
Dalam menentukan sikap yang utuh pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting, sedangkan menurut tingkatan sikap terdiri dari (Notoatmodjo, 2005) :
1. Menerima (Receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek).
2. Menanggapi (Responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari pada sikap.
3. Menghargai (Valuing)
Menghargai diartikan subyek, atau seseorang memberikan nilai yang positif terhadap obyek atau stimulus, dalam arti membahasnya dengan orang lain dan bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain berespon.
4. Bertanggung jawab (Responsible)
Segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko. Ini merupakan tingkatan sikap yang paling tinggi.
Menurut Sarlito Wirawan Sarwono dalam Sunaryo (2004), terdapat beberapa cara untuk membentuk atau mengubah sikap individu yaitu :
1. Adopsi
Adalah suatu cara pembentukan dan perubahan sikap melalui kejadian yang berulang dan terus menerus sehingga hal tersebut diserap oleh individu dan mempengaruhi pembentukan serta perubahan sikap individu.
2. Diferensiasi
Adalah suatu cara pembentukan dan perubahan sikap karena sudah dimiliki pengetahuan, pengalaman, intelegensia dan bertambahnya umur
3. Integrasi
Adalah suatu cara pembentukan dan perubahan sikap yang terjadi secara bertahap diawali macam-macam pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan obyek sikap tertentu sehingga pada akhirnya akan terbentuk sikap terhadap obyek tersebut.
4. Trauma
Adalah suatu cara pembentukan dan perubahan sikap melalui suatu kejadian secara tiba-tiba dan mengejutkan sehingga meninggalkan kesan mendalam dalam diri individu tersebut, kejadian tersebut akan membentuk atau mengubah sikap terhadap kejadian sejenis.


5. Generalisasi.
Adalah suatu cara pembentukan dan perubahan sikap karena pengalaman traumatik pada diri individu terhadap hal tertentu, dapat menimbulkan sikap negatif terhadap semua hal yang sejenis atau sebaliknya.
Menurut Notoatmodjo (1993) bahwa sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau dari orang lain yang paling dekat. Sikap membuat seseorang untuk lebih dekat atau menjauhi seseorang atau sesuatu, sikap yang sudah positif terhadap nilai-nilai kesehatan tidak selalu terwujud dalam suatu tindakan nyata.
Berdasarkan pada pengamatan dan asumsi peneliti bahwa sebagian besar responden memiliki sikap positif sehingga sangat berpotensi untuk dapat mengatasi berbagai persoalan baik pencegahan maupun pengobatan yang berhubungan dengan penyakit malaria.
Dalam hal ini peneliti menyimpulkan bahwa, walaupun seorang telah memiliki sikap positif terhadap sesuatu obyek atau stimulus yang diperoleh belum tentu hal tesebut dapat terwujud dalam tindakan nyata, mengingat sikap mempunyai empat tingkatan berdasarkan intensitasnya yang mampu mempengaruhi seseorang, bisa saja seseorang telah menerima (Receiving) dan menanggapi (Responding) stimulus yang diberikan secara positif, namun tidak mampu menghargai atau mengartikan (Valuing) dalam hal ini tidak mampu mempengaruhi dirinya dan orang lain untuk melaksanakannya serta individu tersebut tidak bertanggung jawab (Responsible) terhadap resiko terhadap sesuatu yang dipilihnya.
C. Keterbatasan Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian ini peneliti mengalami keterbatasan antara lain adalah :
1. Dalam penelitian ini peneliti mengunakan rancangan penelitian Cross sectional study dimana semua variabel bebas dan terikat diukur secara bersamaan pada waktu yang sama dan obyek penelitian hanya di observasi sekali saja. Sehingga metode ini dikatakan metode penelitian yang paling lemah dan memiliki berbagai keterbatasan.
2. Pengumpulan data dengan koesioner memungkinkan responden menjawab dengan tidak jujur atau tidak mengerti pertanyaan.
3. Pengetahuan peneliti tentang penelitian masih kurang dan penelitian ini merupakan pengalaman peneliti yang pertama.







BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat penulis kemukakan adalah sebagai berikut :
1. Ada hubungan antara pendidikan pasien terhadap kejadian malaria.
2. Ada hubungan antara pengetahuan pasien terhadap kejadian malaria.
3. Ada hubungan antara sikap pasien terhadap kejadian malaria.
B. SARAN
Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka penulis memberikan saran sebagai berikut:
1. Disarankan bagi pemberi pelayanan kesehatan (Puskesmas, Pustu, Polindes dan Posyandu) agar tetap meningkatkan pemberian informasi kepada masyarakat dengan penyuluhan tentang penyakit malaria (pencegahan, pemberantasan dan penanganannya).
2. Disarankan bagi pihak yang berkompeten antara lain adalah Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo untuk selalu membuat gebrakan atau trik-trik untuk mengatasi kejadian malaria.
3. Disarankan bagi lembaga swadaya masyarakat (LSM) ataupun organisasi pemerhati kesehatan agar tidak hanya melihat permasalahan atau kasus yang Booming pada waktu-waktu tertentu, tetapi memperhatikan juga kasus-kasus penyakit endemis merakyat yang belum tertangani seperti malaria, dan diharapkan LSM atau organisasi pemeduli kesehatan untuk dapat menjalin kerjasama instansi terkait seperti Dinas Kesehatan, RS, Puskesmas serta jajaran kesehatan untuk pemberantasan penyakit malaria di Kabupaten Nagekeo.
4. Disarankan bagi warga masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan dan meningkatkan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) agar mampu mencegah penyakit – penyakit berbasis lingkungan seperti Malaria dan lainnya.
5. Untuk peneliti selanjutnya, perlu dlakukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan kemungkinan faktor yang menjadi penyebab malaria.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar