Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Bekerja di Dinas Kesehatan Kab. Ngada,lulusan SPK Depkes Ende, melanjutkan pendidikan S1 keperawatan di Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar 2005-2009 dan Alumni Pendidikan Profesi Ners 2009-2011.

Kamis, 08 Oktober 2009

ASKEP CA. MAMAE

BAB I
P E N D A H U L U A N
A. Latar Belakang
Pada hakekatnya keperawatan memandang manusia sebagai makhluk yang unik secara biopsikososiospiritual dan kultural. Dan sebagai makhluk biologis, manusia yang tersusun dari berbagai sistem dan fungsi organ telah diciptakan begitu sempurna. Organ-organ yang ada dalam tubuh diharapkan dapat berfungsi dengan baik. Organ tersebut akan mempengaruhi tubuh secara keseluruhan, termasuk jika salah satu organ kurang atau tidak dapat berfungsi seperti biasanya.
Dan sejalan dengan hal tersebut, pelayanan kesehatan dan keperawatan di rumah sakit juga mengalami perkembangan akibat meningkatnya tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan yang prima, apalagi dengan adanya pergeseran-pergeseran nilai budaya yang menyebabkan perubahan pada pola hidup yang berdampak terhadap munculnya berbagai jenis penyakit, termasuk fibroadenoma/fibrokistik mammae yang dapat menjadi kanker payudara (Carsinoma mammae).
Penyakit fibrokistik payudara dikenal juga sebagai penyakit payudara jinak yang ditandai oleh adanya benjolan-benjolan yang dapat diraba dalam berbagai ukuran dan nyeri bila ditekan selama stadium daur haid. Pembengkakan seringkali terjadi pada wanita normal yang sehat. Walaupun sebagian besar benjolan yang bervariasi sesuai daur haid bersifat jinak, tetapi sebagian lesi dapat berploliferasi dan mempelihatkan pertumbuhan sel yang atipikal
Carsinoma mammae adalah neoplasma ganas yang merupakan suatu pertumbuhan jaringan payudara abnormal yang berbeda dengan jaringan disekitarnya tumbuh secara infiltrat dan destruktif serta dapat bermetastase atau dengan kata lain kanker payudara adalah suatu tumor ganas epitel glandular dari kelenjar payudara.
Penyakit carcinoma, khususnya carcinoma mammae dapat ditemukan baik pada wanita maupun laki-laki, frekuensi bertambah terutama pada usia 30 – 35 tahun dan meningkat pada umur 30 – 50 tahun.Kanker payudara pada laki-laki umumnya lebih agresif dari pada kanker payudara pada wanita.Kanker payudara pada kaum Adam nampaknya belum banyak dikenal di Indonesia saat ini.
Carsinoma mammae biasanya timbul dari sel-sel yang berasal dari jaringan lobular, kanker ini dapat bersifat invasive (infiltrate) maupun noninfasif (in situ). Lebih jauh lagi kejadian kanker yang paling sering kejadiannya pada mammae adalah carcinoma ductul invasive di ikuti oleh lobular carsinoma infasif, carcinoma (in situ) memiliki insiden terkecil (R. Syamsuddin dan Wim De Jong, 1997).
Kanker payudara merupakan salah satu kanker berbahaya yang sudah banyak menimbulkan korban. Di Indonesia kanker payudara menduduki peringkat kedua setelah kanker leher rahim yang paling banyak menyerang wanita Indonesia. Salah satu cara mencegahnya adalah dengan penyadaran diri untuk pemeriksaan payudara lebih awal (www.media-idebajingloncat.com diakses tanggal 1 September 2007) . Kanker payudara merupakan penyebab kematian nomor 2 untuk perempuan di Indonesia. Padahal,kanker payudara adalah salah satu jenis kanker yang dapat dideteksi dini. Namun, tingkat kesadaran masyarakat yang rendah menyebabkan tingginya tingkat stadium pasien kanker payudara di Indonesia ( Kanker payudara ternyata bukan monopoli kaum wanita. Kaum pria pun bisa mengalaminya. Meski angkanya relatif kecil yakni hanya sekitar 1%. Kanker payudara pada pria harus diwaspadai sejak dini karena bisa mengakibatkan kematian sebagaimana yang terjadi pada wanita. Insiden kanker payudara pada dekade terakhir memperlihatkan kecenderungan meningkat. Di Indonesia kanker payudara menduduki tempat kedua dari sepuluh terbanyak setelah kanker mulut rahim di tempat pertama.
Permasalahan mendasar pula dari kanker payudara adalah tingkat kekambuhan walaupun telah dioperasi, bahkan sekitar 90% pasien sembuh setelah dioperasi ternyata masih memiliki resiko kekambuhan. Menurut ahli bedah konsulen onkologi, dr. Sutjipto, SpB(K) dalam symposium Memahami Pengobatan Kanker Payudara di ruang symposium RS Kanker Dharmasi Jakarta pada tanggal 30 Agustus 2007 bahwa Orang yang pernah kena kanker payudara beresiko tinggi terkena lagi karena faktor DNA, kata ahli bedah
Data penderita penyakit fibroadenoma mammae di RSUD Kabupaten Sinjai yang di rawat selama kurung waktu 2006 tercatat sebanyak 23 orang rawat inap semuanya wanita, dan 42 orang rawat jalan. Tingginya angka kejadian ini yang juga tidak menutup kemungkinan untuk berkembang menjadi kanker payudara menuntut tanggung jawab dan tanggung gugat perawat untuk memberikan asuhan perawatan yang prima untuk mencegah terjadinya dampak yang lebih buruk terhadap klien.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui lebih jelas tentang kanker mammae
2. Untuk mengetahui Pengkajian klien dengan Ca. Mammae
3. Untuk mengetahui Diagnosa keperawatan dengan Ca. Mammae
4. Untuk mengetahui Rencana keperawatan pada klien dengan Ca. Mammae
5. Untuk mengetahui Intervensi keperawatan pada klien dengan Ca. Mammae

BAB II
KONSEP MEDIK

A. DEFINISI
• Kanker adalah suatu kondisi dimana sel normal oleh karena suatu hal, bisa karena faktor internal amupun eksternal mengalami mutasi sehingga membentuk sel yang tidak sejenis dengan sel induknya biasa disebut mutasi gen. Sel yang bermutasi ini tidak serta merta berubah menjadi sel kanker karena sistem imun tubuh ( sel darah putih ) akan menghancurkan sel ini. Namun bila tubuh kekurangan asupan gizi yang seimbang maka sel darah putih tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik akibatnya sel ini akan bertambah banyak. Sistem imun yang lemah ditambah dengan masuknya zat karsinogen ke dalam tubuh menjadi faktor pemicu sel yang telah bermutasi ini berkembang biak. Dari satu sel menjadi jutaan sel dan membentuk suatu jaringan kanker.
• Payudara adalah kelenjar yang mampu memproduksi air susu, terdiri dari kumpulan kelenjar dan jaringan lemak yang terletak di antara kulit dan tulang dada.
• Kanker payudara adalah jenis kanker kedua penyebab kematian karena kanker pada wanita, dengan perkiraan 46.000 meninggal pada tahun 1994. (Danielle Gale, RN. MS, 1999 : 127)
• Ketika sejumlah sel di dalam payudara tumbuh dan berkembang dengan tidak terkendali, inilah yang disebut kanker payudara. Sel-sel tersebut dapat menyerang jaringan sekitar dan menyebar ke seluruh tubuh. Kumpulan besar dari jaringan yang tidak terkontrol ini disebut tumor atau benjolan. Akan tetapi, tidak semua tumor merupakan kanker karena sifatnya yang tidak menyebar atau mengancam nyawa. Tumor ini disebut tumor jinak. Tumor yang dapat menyebar ke seluruh tubuh atau menyerang jaringan sekitar disebut kanker atau tumor ganas. Teorinya, setiap jenis jaringan pada payudara dapat membentuk kanker, biasanya timbul pada saluran atau kelenjar susu
• Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk bejolan di payudara. Jika benjolan kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar (metastase) pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah bening (limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit.

B. ANATOMI DAN FISIOLOGI
1. Anatomi payudara
Secara fisiologi anatomi payudara terdiri dari alveolusi, duktus laktiferus, sinus laktiferus, ampulla, pori pailla, dan tepi alveolan. Pengaliran limfa dari payudara kurang lebih 75% ke aksila. Sebagian lagi ke kelenjar parasternal terutama dari bagian yang sentral dan medial dan ada pula pengaliran yang ke kelenjar interpektoralis.
2. Fisiologi payudara
Payudara mengalami tiga perubahan yang dipengaruhi hormon. Perubahan pertama ialah mulai dari masa hidup anak melalui masa pubertas, masa fertilitas, sampai ke klimakterium dan menopause. Sejak pubertas pengaruh ekstrogen dan progesteron yang diproduksi ovarium dan juga hormon hipofise, telah menyebabkan duktus berkembang dan timbulnya asinus.
Perubahan kedua adalah perubahan sesuai dengan daur menstruasi. Sekitar hari kedelapan menstruasi payudara jadi lebih besar dan pada beberapa hari sebelum menstruasi berikutnya terjadi pembesaran maksimal. Kadang-kadang timbul benjolan yang nyeri dan tidak rata. Selama beberapa hari menjelang menstruasi payudara menjadi tegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik, terutama palpasi, tidak mungkin dilakukan. Pada waktu itu pemeriksaan foto mammogram tidak berguna karena kontras kelenjar terlalu besar. Begitu menstruasi mulai, semuanya berkurang.
Perubahan ketiga terjadi waktu hamil dan menyusui. Pada kehamilan payudara menjadi besar karena epitel duktus lobul dan duktus alveolus berproliferasi, dan tumbuh duktus baru.
Sekresi hormon prolaktin dari hipofisis anterior memicu laktasi. Air susu diproduksi oleh sel-sel alveolus, mengisi asinus, kemudian dikeluarkan melalui duktus ke puting susu.

C. ETIOLOGI
a. Umur > 30 tahun
b. Melahirkan anak pertama pada usia > 35 tahun
c. Tidak kawin dan nulipara
d. Usia menars (12)
e. Usia menepouse > 55 tahun
f. Pernah mengalami infeksi, trauma atau operasi tumor jinak payudara
g. Terapi hormonal lama
h. Mempunyai kanker payudara kontralaterali. Pernah menjalani operasi ginekologis misalnya tumor ovariumj. Pernah mengalami radiasi di daerah dadak. Ada riwayat keluarga dengan kanker payudara pad aibu, saudara perempuan Ibu, Sdr perempuan, adik / kakak.
D. MANIFESTASI KLINIK
Gejala dan tanda penyakit Ca mammae:
1. Nyeri :
a. Berubah dengan daur, penyebab fisiologi seperti saat mentruasi
b. Tidak tergantung daur menstruasi, tumor jinak, tumor ganas, infeksi
c. Kenyal, kelainan fibrokistin
d. Lunak, lipoma
2. Perubahan kulit :
a. Bercawam, sangat mencurigakan karsinoma
b. Benjolan kelihatan, kista, karsinoma, fibroadenoma besar
c. Kulit jeruk, khas benjolan adalah kanker (tanda khas)
d. Kemerahan, infeksi (jika panas)


Kelainan putting :
. Retraksi, fibrosis karena kanker
a. Infeksi baru, retraksi fibrosis karena kanker
b. Eksema, pelebaran duktus (ciri khas penyakit kanker)
c. Keluarnya cairan berwarna hijau, pelebaran duktus dan kelainan fibrokistik
d. Hemoragin, karsinoma
Gejala lain yang ditemukan yaitu konsistensi payudara yang keras dan padat, benjolan tersebut berbatas tegas dengan ukuran kurang dari 5 cm, biasanya dalam stadium ini belum ada penyebaran sel-sel kanker di luar payudara.
E. KLASIFIKASI
Terdapat beberapa jenis kanker payudara:
1. Karsinoma insitu
Karsinoma in situ artinya adalah kanker yang masih berada pada tempatnya, merupakan kanker dini yang belum menyebar atau menyusup keluar dari tempat asalnya.
2. Karsinoma duktal
Karsinoma duktal berasal dari sel-sel yang melapisi saluran yang menuju ke puting susu. Sekitar 90% kanker payudara merupakan karsinoma duktal. Kanker ini bisa terjadi sebelum maupun sesudah masa menopause. Kadang kanker ini dapat diraba dan pada pemeriksaan mammogram, kanker ini tampak sebagai bintik-bintik kecil dari endapan kalsium (mikrokalsifikasi). Kanker ini biasanya terbatas pada daerah tertentu di payudara dan bisa diangkat secara keseluruhan melalui pembedahan. Sekitar 25-35% penderita karsinoma duktal akan menderita kanker invasif (biasanya pada payudara yang sama).
3. Karsinoma lobuler
Karsinoma lobuler mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, biasanya terjadi setelah menopause. Kanker ini tidak dapat diraba dan tidak terlihat pada mammogram, tetapi biasanya ditemukan secara tidak sengaja pada mammografi yang dilakukan untuk keperluan lain. Sekitar 25-30% penderita karsinoma lobuler pada akhirnya akan menderita kanker invasif (pada payudara yang sama atau payudara lainnya atau pada kedua payudara).
4. Kanker invasif
Kanker invasif adalah kanker yang telah menyebar dan merusak jaringan lainnya, bisa terlokalisir (terbatas pada payudara) maupun metastatik (menyebar ke bagian tubuh lainnya). Sekitar 80% kanker payudara invasif adalah kanker duktal dan 10% adalah kanker lobuler.
5. Karsinoma meduler
Kanker ini berasal dari kelenjar susu.
6. Karsinoma tubuler
Kanker ini berasal dari kelenjar susu.
Stadium kanker payudara :
1. Stadium I : tumor kurang dari 2 cm, tidak ada limfonodus terkena (LN) atau penyebaran luas.
2. Stadium IIa : tumor kurang dari 5 cm, tanpa keterlibatan LN, tidak ada penyebaran jauh. Tumor kurang dari 2 cm dengan keterlibatan LN
3. Stadium IIb : tumor kurang dari 5 cm, dengan keterlibatan LN. Tumor lebih besar dari 5 cm tanpa keterlibatan LN
4. Stadium IIIa : tumor lebih besar dari 5 cm, dengan keterlibatan LN. semua tumor dengan LN terkena, tidak ada penyebaran jauh
5. Stadium IIIb : semua tumor dengan penyebaran langsung ke dinding dada atau kulit semua tumor dengan edema pada tangan atau keterlibatan LN supraklavikular.
6. Stadium IV : semua tumor dengan metastasis jauh.
F. PATOFISIOLOGI
Kanker payudara bukan satu-satunya penyakit tapi banyak, tergantung pada jaringan payudara yang terkena, ketergantungan estrogennya, dan usia permulaannya. Penyakit payudara ganas sebelum menopause berbeda dari penyakit payudara ganas sesudah masa menopause (postmenopause). Respon dan prognosis penanganannya berbeda dengan berbagai penyakit berbahaya lainnya.
Beberapa tumor yang dikenal sebagai “estrogen dependent” mengandung reseptor yang mengikat estradiol, suatu tipe ekstrogen, dan pertumbuhannya dirangsang oleh estrogen. Reseptor ini tidak manual pada jarngan payudara normal atau dalam jaringan dengan dysplasia. Kehadiran tumor “Estrogen Receptor Assay (ERA)” pada jaringan lebih tinggi dari kanker-kanker payudara hormone dependent. Kanker-kanker ini memberikan respon terhadap hormone treatment (endocrine chemotherapy, oophorectomy, atau adrenalectomy).

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) secara teratur setiap bulan deteksi dini kanker / tumor. Dilakukan pad wanita berusia diatas 20 tahun.
b. Mamografi., pemeriksaan sinar-X payudara untuk mengidentifikasi kanker sebelum benjolan pada payudara diraba dianjurkan untuk 40 tahun keatas.
c. Pemeriksaan USG untuk membedakan lesi/tumor.
d. Pemeriksaan USG untuk histopatologis yang dilakukan dengan :
1) Biopsi eksisi, dengan mengangkat seluruh jaringan tumor beserta sedikit jaringan sehat disekitarnya.
2) Biopsi insisi, dengan mengangkat sebagai jaringan tumor dan sedikit jaringan sehat, dilakukan untuk tumor-tumor yang inoperable atau lebih besar dari 5 cm.

H. PENATALAKSANAAN
Pilihan pengobatan untuk kanker payudara tergantung pada tipe, ukuran dan lokasi tumor, juga karakteristik klinis. Terapi dapat termasuk intervensi bedah tanpa radiasi, kemoterapi dan terapi hormone. Penggunaan trasnplantasi sumsum tulang masih dalam penelitian.
1. Pembedahan
Tipe pembedahan secara umum dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu mastektomi radikal, inextektomi total dan prosedur lebih terbatas. Contoh: segmental., lumpektomi. Mastektomi adalah pengangkatan seluruh atau sebagian payudara disebabkan oleh kanker payudara stadium I dan II. Mastektomi total mengangkat semua jaringan payudara tetapi modifikasi mengangkat seluruh payudara atau seluruh nodus, kadang-kadang otot-otot, pektoralis minor dan mayor, limfe, ketiak. Lumpektomi dianggap tumor non metastatik bila kurang dari 5 cm ukurannya tidak melibatkan putting.
2. Radiasi
a. Terapi eksternal beam, melakukan kira-kira selama 5 minggu. Wanita mengalami masa perpanjangan kelelahan dan depresi oleh kanker katabolisme dan hilangnya jaringan.
b. Terapi interstitial, jarum iridium ditanamkan ke dalam payudara klien dan di bawah pengawasan anestesi umum.
3. Pengobatan kemoterapi, pemberian kemoterapi direncanakan berdasarkan hasil pengamatan terhadap pembedahan-pembedahan dalam reaksi sel kanker dan normal terhadap obat sistotik. Kemotherapi merupakan terapi sistemik yang digunakan bila ada penyebaran secara sistemik dan juga dipakai sebagai terapi ajuvan.
Kemotherapi ajuvan diberikan kepada pasien yang pada umumnya yang ditemukan ada metastasis di beberapa kelenjar pada pemeriksaan hispatologi pasca bedah mastektomi. Tujuannya adalah menghancurkan mikrometastis di dalam tubuh yang biasanya terdapat pada klien yang kelenjar aksilanya sudah mengandung metastase, obat yang diberikan kombinasi giklofamid, metotreksa dan fluorourasil selama enam bulan pada wanita premanapouse sedangkan pada pascamenopouse diberikan terapi ajura hormonal berupa pada antiestrogen.
Terapi hormonal adalah bila penyakit telah sistemik berupa metastasis jauh. Terapi hormonal biasanya diberikan secara paliatif sebelum kemotherapinya karena efek lebih lama dan efek sampingnya kurang, tetapi tidak semua kanker peka terhadap terapi hormonal.
I. PENCEGAHAN
Perlu untuk diketahui, bahwa 9 di antara 10 wanita menemukan adanya benjolan di payudaranya. Untuk pencegahan awal, dapat dilakukan sendiri. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan sehabis selesai masa menstruasi. Sebelum menstruasi, payudara agak membengkak sehingga menyulitkan pemeriksaan. Cara pemeriksaan adalah sebagai berikut :
1. Berdirilah di depan cermin dan perhatikan apakah ada kelainan pada payudara. Biasanya kedua payudara tidak sama, putingnya juga tidak terletak pada ketinggian yang sama. Perhatikan apakah terdapat keriput, lekukan, atau puting susu tertarik ke dalam. Bila terdapat kelainan itu atau keluar cairan atau darah dari puting susu, segeralah pergi ke dokter.
2. Letakkan kedua lengan di atas kepala dan perhatikan kembali kedua payudara.
3. Bungkukkan badan hingga payudara tergantung ke bawah, dan periksa lagi.
4. Berbaringlah di tempat tidur dan letakkan tangan kiri di belakang kepala, dan sebuah bantal di bawah bahu kiri. Rabalah payudara kiri dengan telapak jari-jari kanan. Periksalah apakah ada benjolan pada payudara. Kemudian periksa juga apakah ada benjolan atau pembengkakan pada ketiak kiri.
5. Periksa dan rabalah puting susu dan sekitarnya. Pada umumnya kelenjar susu bila diraba dengan telapak jari-jari tangan akan terasa kenyal dan mudah digerakkan. Bila ada tumor, maka akan terasa keras dan tidak dapat digerakkan (tidak dapat dipindahkan dari tempatnya). Bila terasa ada sebuah benjolan sebesar 1 cm atau lebih, segeralah pergi ke dokter. Makin dini penanganan, semakin besar kemungkinan untuk sembuh secara sempurna. Lakukan hal yang sama untuk payudara dan ketiak kanan

J. PROGNOSIS
Stadium klinis dari kanker payudara merupakan indikator terbaik untuk menentukan prognosis penyakit ini. Angka kelangsungan hidup 5 tahun pada penderita kanker payudara yang telah menjalani pengobatan yang sesuai mendekati:
a. 95% untuk stadium 0
b. 88% untuk stadium I
c. 66% untuk stadium II
d. 36% untuk stadium III
e. 7% untuk stadium IV.
Sekitar 90% pasien sembuh setelah dioperasi ternyata masih memiliki resiko kekambuhan.













BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Data yang disimpulkan meliputi :
1. Data biografi /biodata
Meliputi identitas klien dan identitas penanggung antara lain : nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan dan alamat.
2. Riwayat keluhan utama.
Riwayat keluhan utama meliputi : adanya benjolan yang menekan payudara, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan mengeras, bengkak, nyeri.
3. Riwayat kesehatan masa lalu
1. Apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya.
2. Apakah ada keluarga yang menderita penyakit yang sama .

Data Pengkajian Pasien
• Aktivitas / istirahat
Gejala : Malaise, merasa lelah, letih
Tanda : gelisah siang dan malam, gangguan pola istrahat dan pola tidur, dan gangguan alat gerak
; Malaise ( kelemahan dan keletihan )
• Sirkulasi
Gejala : Palpitasi , adanya pembengkakan mempengaruhi sirkulasi dan adanya nyeri pada dada karena sumbatan pada Vena
Tanda : Peningkatan tekanan darah.
• Integritas Ego
Gejala : Menarik diri dari lingkungan, karena factor stress ( adanya
Gangguan pada keuangan, pekerjaan, dan perubahan peran )
Selain itu biasanya menolak diagnosis, perasaan tidak berdaya, tidak mampu, rasa bersalah, kehilangan control dan depresi.
Tanda : Menyangkal, Marah, Kasar,. Dan suka menyendiri.
• Eliminasi
Gejala : Perubahan pada eliminasi urinarius misalnya nyeri, pada saat berkemih dan poliuri.
Perubahan pada pola defekasi ditandai dengan adanya darah
yang bercampur pada feses, dan nyeri pada saat defekasi.
Tanda : adanya perubahan pada warna urin, perubahan pada
Peristaltik usus, serta adanya distensi abdomen
• Makanan / Cairan
Gejala : kurang nafsu makan, pola makan buruk, ( misalnya rendah
Tinggi lemak, adanya zat aditif, bahan pengawet),anoreksia,
Mual / muntah
Tanda : Penurunan berat badan, berkurangnya massa otot, dan
Perubahan pada turgor kulit.
• Hiegene
Gejala : melakukan higene diri sendiri harus dibantu orang lain ,
Karena gangguan/nyeri pada payudara maka menjaga hygiene tidak dapat dilakuakan, malas mandi
Tanda : Adanya perubahan pada kebersihan kulit, kuku dan sebagainya.
• Neurosensori
Gejala : Pusing,
Tanda : Pasien sering melamun dan suka menyendiri.
• Kenyamanan
Gejala : adanya nyeri dari nyeri ringan sampai nyeri berat, sangat
Mempengaruhi kenyamanan pasien
Tanda : Pasien sering mengeluh tentang nyeri yang dirasakan, dan
Keterbatasan gerak karena nyeri tersebut.
• Pernapasan
Gejala : Pasien kadang asma, karena kebiasaan merokok, atau
Pemajanan asbes.
• Keamanan
Gejala : Karena adanya pemajanan pada kimia toksik, karsinogen
Pemajanan matahari lama / berlebihan.
Tanda : Demam, ruam kulit dan ulserasi.
• Seksualitas
Gejala : adanya perubahan pada tingkat kepuasan seksualitas
• Interaksi social
Gejala : Menarik diri dari lingkungan social,
Karena adanya perubahan posisi dalam kedudukan, ketidak
Ketidakadekuatan system pendukung.
• Pembelajaran / Healt education
Gejala : memberi pengetahuan tentang penyakit kanker mengenai
Gejala – gejala, riwayat penyakit kanker keluarga, dan memberi pengertian tentang upaya pengobatan.


























Data obyektif Data subyektif
Klien nampak meringis

Klien tampak takut bergerak
.
Klien tampak takut melihat anggota tubuhnya.
Klien jarang bicara dengan pasien lain
Klien sering memegangi payudara dan wajah tampak menyeringan.
Ekspresi wajah murung/
bingung.
Klien hanya menghabiskan setengah porsi makan Klien mengeluh nyeri pada sekitar payudara sebelah kiri menjalar ke kanan
Klien mengeluh sakit jika lengan digerakkan.

Klien mengatakan takut ditolak oleh orang lain.
Klien mengatakan malu dengan keadaan dirinya

Klien mengeluh nyeri pada daerah sekitar operasi.

Klien sering menanyakan tentang penyakitnya.

Klien nafsu makannya menurun
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan imobilisasi lengan/bahu.
3. Kecemasan berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh.
4. Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah
5. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi.
6. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan serta pengobatan penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi.
7. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake tidak adekuat.

C. INTERVENSI
Perencanaan keperawatan adalah pengembangan dari pencatatan perencanaan perawatan untuk memenuhi kebutuhan klien yang telah diketahui.
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor ditandai dengan :
Tujuan : Nyeri teratasi.
Kriteria :
1. Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang
2. Nyeri tekan tidak ada
3. Ekspresi wajah tenang
4. Luka sembuh dengan baik
Intervensi :
1. Kaji karakteristik nyeri, skala nyeri, sifat nyeri, lokasi dan penyebaran.
Rasional : Untuk mengetahui sejauhmana perkembangan rasa nyeri yang dirasakan oleh klien sehingga dapat dijadikan sebagai acuan untuk intervensi selanjutnya.
2. Beri posisi yang menyenangkan.
Rasional: Dapat mempengaruhi kemampuan klien untuk rileks/istirahat secara efektif dan dapat mengurangi nyeri.
3. Anjurkan teknik relaksasi napas dalam.
Rasional : Relaksasi napas dalam dapat mengurangi rasa nyeri dan memperlancar sirkulasi O2 ke seluruh jaringan.
4. Ukur tanda-tanda vital
Rasional : Peningkatan tanda-tanda vital dapat menjadi acuan adanya peningkatan nyeri.
5. Penatalaksanaan pemberian analgetik
Rasional : Analgetik dapat memblok rangsangan nyeri sehingga dapat nyeri tidak dipersepsikan.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan imobilisasi lengan/bahu.
Tujuan : Klien dapat beraktivitas
Kriteria :
1. Klien dapat beraktivitas sehari – hari.
2. Peningkatan kekuatan bagi tubuh yang sakit.
Intervensi :
1. Latihan rentang gerak pasif sesegera mungkin.
Rasional : Untuk mencegah kekakuan sendi yang dapat berlanjut pada keterbatasan gerak.
2. Bantu dalam aktivitas perawatan diri sesuai keperluan
Rasional : Menghemat energi pasien dan mencegah kelelahan.
3. Bantu ambulasi dan dorong memperbaiki postur.
Rasional : Untuk menghindari ketidakseimbangan dan keterbatasan dalam gerakan dan postur.
3. Kecemasan berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh.
Tujuan : Kecemasan dapat berkurang.
Kriteria :
1. Klien tampak tenang
2. Mau berpartisipasi dalam program terapi
Intervensi :
1. Dorong klien untuk mengekspresikan perasaannya.
Rasional: Proses kehilangan bagian tubuh membutuhkan penerimaan,sehingga pasien dapat membuat rencana untuk masa depannya.
2. Diskusikan tanda dan gejala depresi.
Rasional : Reaksi umum terhadap tipe prosedur dan kebutuhan dapat dikenali dan diukur.
3. Diskusikan tanda dan gejala depresi
Rasional : Kehilangan payudara dapat menyebabkan perubahan gambaran diri, takut jaringan parut, dan takut reaksi pasangan terhadap perubahan tubuh.
4. Diskusikan kemungkinan untuk bedah rekonstruksi atau pemakaian prostetik.
Rasional : Rekonstruksi memberikan sedikit penampilan yang lengkap, mendekati normal.
4. Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah
Tujuan : klien dapat menerima keadaan dirinya.
Kriteria :
1. Klien tidak malu dengan keadaan dirinya.
2. Klien dapat menerima efek pembedahan.
Intervensi :
1. Diskusikan dengan klien atau orang terdekat respon klien terhadap penyakitnya.
Rasional : membantu dalam memastikan masalah untuk memulai proses pemecahan masalah
2. Tinjau ulang efek pembedahan
Rasional : bimbingan antisipasi dapat membantu pasien memulai proses adaptasi.
3. Berikan dukungan emosi klien.
Rasional : klien bisa menerima keadaan dirinya.
4. Anjurkan keluarga klien untuk selalu mendampingi klien.
Rasional : klien dapat merasa masih ada orang yang memperhatikannya.
5. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi.
Tujuan : Tidak terjadi infeksi.
Kriteria :
1. Tidak ada tanda – tanda infeksi.
2. Luka dapat sembuh dengan sempurna.
Intervensi :
1. Kaji adanya tanda – tanda infeksi.
Rasional : Untuk mengetahui secara dini adanya tanda – tanda infeksi sehingga dapat segera diberikan tindakan yang tepat.
2. Lakukan pencucian tangan sebelum dan sesudah prosedur tindakan.
Rasional : Menghindari resiko penyebaran kuman penyebab infeksi.
3. Lakukan prosedur invasif secara aseptik dan antiseptik.
Rasional : Untuk menghindari kontaminasi dengan kuman penyebab infeksi.
4. Penatalaksanaan pemberian antibiotik.
Rasional : Menghambat perkembangan kuman sehingga tidak terjadi proses infeksi.
6. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan serta pengobatan penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan : Klien mengerti tentang penyakitnya.
Kriteria :
1. Klien tidak menanyakan tentang penyakitnya.
2. Klien dapat memahami tentang proses penyakitnya dan pengobatannya.
Intervensi :
1. Jelaskan tentang proses penyakit, prosedur pembedahan dan harapan yang akan datang.
Rasional : Memberikan pengetahuan dasar, dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi, dan dapat berpartisipasi dalam program terapi.
2. Diskusikan perlunya keseimbangan kesehatan, nutrisi, makanan dan pemasukan cairan yang adekuat.
Rasional : Memberikan nutrisi yang optimal dan mempertahankan volume sirkulasi untuk mengingatkan regenerasi jaringan atau proses penyembuhan.
3. Anjurkan untuk banyak beristirahat dan membatasi aktifitas yang berat.
Rasional : Mencegah membatasi kelelahan, meningkatkan penyembuhan, dan meningkatkan perasaan sehat.
4. Anjurkan untuk pijatan lembut pada insisi/luka yang sembuh dengan minyak.
Rasional : Merangsang sirkulasi, meningkatkan elastisitas kulit, dan menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan rasa pantom payudara.
5. Dorong pemeriksaan diri sendiri secara teratur pada payudara yang masih ada. Anjurkan untuk Mammografi.
Rasional : Mengidentifikasi perubahan jaringan payudara yang mengindikasikan terjadinya/berulangnya tumor baru.
7. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, ditandai dengan :
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria :
1. Nafsu makan meningkat
2. Klien tidak lemah
3. Hb normal (12 – 14 gr/dl)
Intervensi :
1. Kaji pola makan klien
Rasional : Untuk mengetahui kebutuhan nutrisi klien dan merupakan asupan dalam tindakan selanjutnya.
2. Anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional : dapat mengurangi rasa kebosanan dan memenuhi kebutuhan nutrisi sedikit demi sedikit.
3. Anjurkan klien untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi.
Rasional : agar menambah nafsu makan pada waktu makan.
4. Anjurkan untuk banyak makan sayuran yang berwarna hijau.
Rasional : sayuran yang berwarna hijau banyak mengandung zat besi penambah tenaga.
5. Libatkan keluarga dalam pemenuhan nutrisi klien
Rasional : partisipasi keluarga dpat meningkatkan asupan nutrisi untuk kebutuhan energi.














DAFTAR PUSTAKA
Doenges M., (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, EGC, Jakarta
Dixon M., dkk, (2005), Kelainan Payudara, Cetakan I, Dian Rakyat, Jakarta.
Mansjoer, dkk, (2000), Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jakarta.
Sjamsuhidajat R., (1997), Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta
www.pitapink.com situs resmi Yayasan Kanker Payudara Jakarta , diakses tanggal 1 September 2007).

















KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan kemampuan dan kesempatan yang diberikannya kepada penulis sehingga tugas kelompok maternitas (Ca Mammae) ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Ucapan terima kasih juga tak lupa penulis haturkan bagi semua pihak yang telah membantu.
Penulis tetap menyadari bahwa tugas kelompok ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, oleh karenanya saran dan kritik sangat kami butuhkan sebagai bahan koreksi untuk pembuatan tugas berikutnya.
Penulis berharap agar dengan hadirnya tugas ini, dapat memberikan tambahan pengetahuan bagi kita semua dan semoga saja tugas ini dapat menjadi sesuatu yang berguna, Amin.
Makassar, Desember 2008
Penulis



Dosen: HARIANI, S.Kp
Tugas kelompok Maternitas




PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
NANI HASANUDDIN
MAKASSAR
2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar